Serangan AS ke Iran, Trump Tegaskan itu Bukan Perang, Tapi Operasi Militer
Kredit Foto: Istimewa
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim Iran tengah berupaya bernegosiasi dengan Washington untuk mengakhiri konflik yang sedang berlangsung, namun Teheran disebut takut mengakuinya secara terbuka kepada publik.
Klaim tersebut disampaikan Trump dalam acara jamuan makan malam penggalangan dana tahunan Komite Kongresional Nasional Partai Republik (National Republican Congressional Committee/NRCC) pada Rabu (26/3) malam waktu setempat.
"Ngomong-ngomong, mereka sedang bernegosiasi. Mereka sangat ingin mencapai kesepakatan, tetapi takut untuk mengatakannya, karena mereka pikir mereka akan dibunuh oleh rakyatnya sendiri. Mereka juga takut akan dibunuh oleh kita," kata Trump dalam pidatonya.
Daily Beast melaporkan dalam kesempatan itu, Trump juga melontarkan candaan terkait kepemimpinan Iran. Selain itu, Trump menyatakan dirinya menghindari penggunaan istilah “perang” atas konflik yang dimulai pada 28 Februari lalu.
"Saya tidak akan menggunakan kata perang karena mereka bilang jika Anda menggunakan kata perang, itu mungkin bukan hal yang baik. Kata itu membutuhkan persetujuan (Kongres). Jadi saya akan menggunakan frasa ‘operasi militer’. Yang sebenarnya lebih tepat disebut penghancuran militer," kata Trump.
Sementara itu, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt turut membenarkan adanya komunikasi antara AS dan Iran dalam beberapa hari terakhir. Menurutnya, pembicaraan tersebut cukup produktif dan membuat Trump menunda rencana serangan terhadap pembangkit listrik serta infrastruktur energi Iran.
"Kami telah terlibat dalam percakapan produktif selama tiga hari terakhir. Tidak perlu ada lagi kematian dan kehancuran,” ujar Leavitt kepada wartawan.
Namun, Leavitt juga memperingatkan bahwa AS siap meningkatkan tekanan militer jika Iran tidak menerima situasi yang ada saat ini.
“Jika Iran gagal menerima kenyataan saat ini, jika mereka gagal memahami bahwa mereka telah kalah secara militer dan akan terus begitu, Presiden Trump akan memastikan mereka diserang lebih keras dari sebelumnya,” kata Leavitt.
Ia menambahkan, Trump tidak sedang menggertak dan siap melancarkan serangan yang lebih besar jika diperlukan. “Presiden Trump tidak menggertak dan siap melancarkan serangan dahsyat,” tegasnya.
Bantahan Keras dari Iran
Pernyataan Trump tersebut langsung dibantah oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi yang menegaskan bahwa negaranya tidak sedang melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat dan tidak memiliki niat untuk memulai pembicaraan tersebut.
Araghchi menjelaskan bahwa dalam beberapa hari terakhir, AS memang mengirimkan berbagai pesan melalui negara-negara perantara yang memiliki hubungan baik dengan kedua pihak. Namun, menurutnya, respons Iran hanya sebatas menyampaikan posisi resmi dan memberikan peringatan.
"Itu bukan dialog atau negosiasi," tegas Araghchi.
Ia juga menegaskan bahwa Iran akan terus mempertahankan diri di tengah konflik yang berlangsung. Menurutnya, konflik saat ini merupakan perang yang dipicu oleh Israel, sementara masyarakat di kawasan Timur Tengah dan warga Amerika Serikat harus menanggung dampaknya.
"Ini adalah perang Israel, dan rakyat di kawasan serta rakyat AS yang harus menanggung akibatnya,” kata Araghchi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: