Akhir Pekan, Rupiah Ditutup Nyaris Tergelincir ke Rp17.000 per USD
Kredit Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup di level Rp16.979 pada perdagangan akhir pekan, Jumat (27/3/2026). Mata uang Garuda melemah 75 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp16.904 per dolar AS.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan dari sisi internal pelemahan rupiah dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I 2026 yang diperkirakan tidak setinggi target pemerintah, yakni hanya 5,4% atau sedikit di bawah target.
“Perkiraan ini didasarkan pada pelaksanaan Hari Raya Lebaran tahun ini yang tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Hal ini membuat dorongan Lebaran terhadap pertumbuhan ekonomi menjadi lebih terbatas,” kata Ibrahim kepada wartawan.
Dari sisi pendorong, ekonomi nasional masih berpotensi tumbuh hingga 5,4% berkat belanja pemerintah yang dinilai cukup ekspansif, terutama pada program prioritas dan bantuan sosial guna menjaga daya beli masyarakat.
Sementara dari sisi hambatan, dampak bencana di Sumatra pada akhir 2025 masih terasa hingga kuartal II 2026. Aktivitas ekonomi di wilayah terdampak masih dalam tahap revitalisasi atau perbaikan.
“Sehingga geliat ekonomi di wilayah tersebut belum berjalan normal dan sedikit banyak memengaruhi rata-rata nasional,” ujarnya.
Dari sisi eksternal, pelemahan rupiah turut dipicu konflik antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran. Presiden AS Donald Trump menyatakan pembicaraan untuk mengakhiri konflik berjalan baik dan berencana menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama 10 hari.
Meski demikian, AS juga telah mengirim ribuan pasukan ke Timur Tengah, dengan pertimbangan penggunaan pasukan darat untuk merebut pusat minyak strategis Iran di Pulau Kharg.
Menurut Ibrahim, konflik tersebut telah mengurangi pasokan minyak global hingga 11 juta barel per hari. International Energy Agency (IEA) bahkan menilai krisis ini lebih buruk dibandingkan dua guncangan minyak pada 1970-an dan perang gas Rusia–Ukraina jika digabungkan.
Baca Juga: Rupiah Tembus ke Rp16.904 Didukung Stabilitas BBM dan APBN
Baca Juga: Imbas Perang AS-Iran, Rupiah Diramal Tembus Rp20.400 per dolar AS
Baca Juga: Meski Libur Lebaran, BI Tetap Siaga Stabilkan Rupiah
Selain itu, pasar mulai memperkirakan skenario inflasi tinggi. Pada awal tahun, pelaku pasar memperkirakan setidaknya dua kali pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed). Namun, sejak konflik memanas dan setelah keputusan kebijakan The Fed pada 18 Maret, ekspektasi tersebut mulai berkurang.
“Sebaliknya, pasar memperkirakan pengetatan sebesar 12 basis poin oleh bank sentral AS, menurut Prime Market Terminal. Suku bunga yang lebih tinggi cenderung menekan emas karena mengurangi daya tariknya sebagai aset yang tidak menghasilkan,” pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: