Amerika Serikat dan Sekutu Kembali Tekan Ukraina, Minta Kurangi Serangan ke Minyak Rusia
Kredit Foto: Reuters/Valentyn Ogirenko
Amerika Serikat dan sekutunya dilaporkan memberikan sinyal cukup kontroversial untuk Ukraina. Kieve menyebut bahwa mereka diminta untuk mengurangi serangan terhadap sektor energi, termasuk kilang minyak dari Rusia.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy mengonfirmasi adanya komunikasi tersebut dan menyatakan bahwa negaranya terbuka terhadap penyesuaian strategi. Ia menyebut bahwa tekanan itu muncul akibat lonjakan harga minyak menyusul konflik di Timur Tengah.
Baca Juga: Beri Izin Tanker Rusia, Amerika Serikat Longgarkan Blokade Minyak Kuba
"Baru-baru ini, menyusul krisis energi global yang begitu parah, kami memang telah menerima sinyal dari beberapa mitra kami tentang bagaimana mengurangi respons kami di sektor minyak dan sektor energi dari Rusia," kata Zelenskiy.
Zelensky mengatakan bahwa dirinya menyadari bahwa gangguan pasokan minyak, gas, dan produk energi lainnya membuat pasar global semakin sensitif terhadap serangan terhadap infrastruktur energi.
Namn ia menegaskan bahwa pihaknya hanya akan mengurangi serangan terhadap infrastruktur energi jika hal tersebut juga dilakukan oleh Rusia. Moskow menurutnya juga menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi dari Ukraina.
Sebelumnya, Amerika Serikat dilaporkan meminta adanya pengurangan serangan terhadap infrastruktur energi dari Rusia. Sinyal awal bahkan disebut berasal dari Moskow. Hal itu mengindikasikan adanya kemungkinan pendekatan timbal balik untuk meredakan serangan terhadap sektor energi.
Sejak awal konflik, serangan terhadap infrastruktur energi menjadi strategi utama kedua pihak. Serangan Rusia telah menyebabkan kerusakan besar pada sistem energi dari Ukraina. Hal itu memaksa negara tersebut mencari pasokan tambahan di tengah kondisi krisis.
Di Timur Tengah, Presiden Mesir, Abdel Fattah al-Sisi mengaku baru-baru ini telah bertemu dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ia menyebut sang presiden adalah satu-satunya yang memiliki pengaruh cukup besar untuk menghentikan konflik di Timur Tengah.
Sisi juga memperingatkan bahwa harga minyak dunia dapat melonjak hingga lebih dari US$200. Ia menilai kekhawatiran tersebut bukan berlebihan, mengingat konflik telah mengganggu fasilitas energi dan jalur distribusi minyak global.
Menurutnya, serangan terhadap kilang dan fasilitas produksi energi akan berdampak serius terhadap ekonomi dunia. Hal tersebut juga diperburuk dengan gangguan jalur pelayaran tanker minyak di Selat Hormuz.
Baca Juga: Dampak Perang Iran, Harga Bensin Sampai Tembus Rp68.000 di Amerika Serikat
"Saya khawatir bahwa penargetan fasilitas energi, baik produksi maupun kilang, akan memiliki dampak yang sangat serius bagi perekonomian global dan harga bahan bakar," katanya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: