Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Zelensky Bimbang, Perang Iran Bisa Ganggu Pasokan Senjata Amerika Serikat ke Ukraina

Zelensky Bimbang, Perang Iran Bisa Ganggu Pasokan Senjata Amerika Serikat ke Ukraina Kredit Foto: Reuters/Valentyn Ogirenko
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ukraina khawatir dengan kemungkinan akan panjangnya perang dari Iran dan Amerika Serikat. Menurutnya, hal tersebut bisa mengganggu pasokan senjata dari sekutu untuk digunakan dalam perang dengan Rusia.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy memperingatkan bahwa negaranya dapat menghadapi peningkatan risiko dalam memperoleh sistem pertahanan rudal dari Amerika Serikat. Konflik Timur Tengah menurutnya berpotensi memengaruhi prioritas pasokan militer global.

Baca Juga: Saat Blokade Iran, Sekretaris Angkatan Laut Amerika Serikat Mendadak Dipecat Trump

Zelenskiy mengatakan pihaknya sejauh ini hanya menerima jumlah terbatas sistem pertahanan tersebut karena kapasitas produksi yang terbatas di Amerika Serikat. Namun, ia menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada gangguan dalam pengiriman maupun dukungan intelijen dari Washington.

"Amerika Serikat memasok dalam jumlah kecil. Kami tidak memiliki banyak. Kami memahami alasannya, karena produksi di Amerika Serikat tidak terlalu besar," kata Zelenskiy.

Ia memperingatkan soal dampak panjang perang dari Iran dan Amerika Serikat. Menurutnya, jika perang terus berlanjut atau gencatan senjata tertunda, maka risiko terhadap pasokan sistem anti-rudal akan meningkat.

"Jika perang berlanjut atau gencatan senjata tertunda... ini tidak baik. Dan mungkin kami akan menghadapi lebih banyak risiko terkait sistem anti-balistik," ujarnya.

Ukraina saat ini memanfaatkan program sekutu untuk memperoleh sistem pertahanan tambahan. Melalui skema tersebut, negara-negara anggota dapat membantu membiayai pembelian senjata bagi Kyiv.

"Melalui program ini, kami bisa membeli rudal anti-balistik untuk sistem Patriot dan beberapa senjata lain yang sangat penting bagi kami," kata Zelenskiy.

Selain menerima bantuan, mereka juga menawarkan keahliannya dalam menghadapi serangan drone kepada negara-negara dari Timur Tengah. Pengalaman ini diperoleh selama bertahun-tahun menghadapi drone militer dari Rusia. Zelenskiy menyebut telah menandatangani kesepakatan dengan Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

"Kami akan terus bekerja dengan negara lain. Kami siap memberikan keahlian kami serta misi pelatihan," kata Zelenskiy.

Sebelumnya, Rusia menyatakan bahwa pihaknya tidak ingin membuang-buang waktu terkait dengan rencana pertemuan dari Presiden Rusia, Vladimir Putin dan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy. Moskow ingin pertemuan itu terjadi hanya untuk mengakhiri perangnya dengan Kiev.

Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov mengatakan bahwa pertemuan yang bertujuan untuk melakukan finalisasi kesepakatanlah yang akan dihadiri oleh Putin. Menurutnya, sang presiden selalu siap untuk bertemu di Moskow.

"Hal utama adalah tujuan dari pertemuan ini. Untuk apa mereka harus bertemu? Putin telah mengatakan ia siap kapan saja untuk pertemuan di Moskow," kata Peskov.

Peskov menegaskan bahwa setiap pertemuan harus memiliki alasan yang jelas dan menghasilkan kemajuan konkret, yang dapat menghentikan perang dari Rusia dan Ukraina.

"Hal utama adalah harus ada alasan untuk bertemu, dan yang terpenting adalah pertemuan itu harus produktif. Dan itu hanya bisa untuk tujuan menyelesaikan kesepakatan," ujarnya.

Menurut Peskov, pertemuan tingkat tinggi membutuhkan persiapan matang serta kemauan politik dari Ukraina. Namun, ia menilai saat ini belum ada indikasi ke arah tersebut.

Baca Juga: Tak Hanya di Selat Hormuz, Amerika Serikat Kini Buru Tanker Iran di Asia

"Dan untuk saat ini, kami tidak melihat adanya kemauan politik seperti itu," katanya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar