Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Dampak Perang Iran, Harga Bensin Sampai Tembus Rp68.000 di Amerika Serikat

Dampak Perang Iran, Harga Bensin Sampai Tembus Rp68.000 di Amerika Serikat Kredit Foto: Pertamina
Warta Ekonomi, Jakarta -

Harga bensin melonjak tinggi dengan rata-rata nasional menembus US$4 atau Rp68.000 di Amerika Serikat. Angka tersebut menjadi level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terakhir.

Analis Raymond James, Pavel Molchanov mengatakan bahwa lonjakan tersebut dipicu oleh gangguan pasokan akibat perang dari Israel, Amerika Serikat dan Iran. Perang tersebut diketahui mengganggu jalur pelayaran tanker minyak di Selat Hormuz.

Baca Juga: Negosiasi Berjalan, Amerika Serikat Bilang Iran Bohong ke Publik

"Pecahnya perang secara tiba-tiba menyebabkan lonjakan harga bensin hingga US$4,00. Itu menggambarkan konflik saat ini dan juga invasi dari Rusia ke Ukraina. Saat itu, seperti sekarang, harga minyak melonjak di seluruh dunia, dan cadangan minyak darurat pun digunakan," ungkapnya.

Level US$4 dianggap sebagai batas psikologis bagi konsumen dari Amerika Serikat. Angka ini terakhir terjadi setelah invasi Rusia ke Ukraina. Kenaikan harga bahan bakar kini kembali membebani rumah tangga yang sudah menghadapi tekanan biaya hidup.

Hal tersebut akan menjadi tantangan besar bagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Partai Republik. Trump sebelumnya berjanji menurunkan harga energi dan meningkatkan produksi minyak domestik, namun kondisi geopolitik membuat target tersebut sulit tercapai.

Washington sendiri telah mengambil sejumlah langkah untuk menekan kenaikan harga, termasuk melonggarkan aturan pengiriman energi agar pasokan lebih lancar. Namun, langkah ini diperkirakan hanya memberikan dampak terbatas terhadap harga dalam pasar.

Molchanov juga memperkirakan harga bensin bisa mulai turun dalam beberapa minggu jika situasi mereda. Namun, jika harga minyak terus naik, harga bensin berpotensi meningkat lebih lanjut.

"Kami memperkirakan krisis ini akan lebih singkat: sementara harga bensin tetap di atas US$4,00. Kami memperkirakan harga akan mulai mendingin dalam beberapa minggu ke depan," kata Molchanov.

Sebelumnya, Trump menyatakan bahwa pihaknya tengah bernegosiasi dengan rezim yang lebih rasional di Iran. Namun memperingatkan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan akan berujung pada serangan besar.

Ia mengancam akan menghancurkan berbagai fasilitas vital negara tersebut jika tak ada pembukaan dari Selat Hormuz. Trump mengatakan bahwa pihaknya akan menghancurkan pembangkit listrik, sumur minyak, sumber air bersih hingga pusat ekspor minyak dari Iran, Kharg Island.

Serangan tersebut jika terealisasi, berpotensi akan menyebakan kenaikan harga minyak lanjutan. Ia akan berdampak terhadap inflasi, logistik hingga pangan dunia. 

Bagi Indonesia, kondisi ini dapat memicu tekanan harga dan biaya hidup masyarakat. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia baru-baru ini memberikan respons terkait dampak lonjakan harga minyak global terhadap harga bensin. Pemerintah menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah menjaga stabilitas harga BBM bersubsidi agar tidak mengalami kenaikan.

Baca Juga: Trump Ingin Negara Arab Biayai Perang Iran dan Amerika Serikat

Kebijakan harga bensin nonsubsidi untuk sektor industri maupun kendaraan pribadi kelas atas akan terus mengikuti mekanisme harga pasar. Selain itu, perubahan harga pada jenis bensin nonsubsidi tersebut tidak memerlukan pengumuman resmi dari pihak pemerintah.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Advertisement