Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        APBN Tekor Rp6 Triliun Tiap Harga Minyak Naik US$1, Purbaya Jaga Defisit di 2,9%

        APBN Tekor Rp6 Triliun Tiap Harga Minyak Naik US$1, Purbaya Jaga Defisit di 2,9% Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan kenaikan harga minyak dunia sebesar US$1 per barel berpotensi menambah beban defisit APBN sekitar Rp6 triliun. Dengan kondisi tersebut, defisit APBN diperkirakan melebar hingga kisaran 2,9%.

        Meski demikian, Purbaya memastikan pemerintah tetap menjaga defisit agar tidak melampaui batas 3% sebagaimana diatur dalam undang-undang.

        “Setiap kenaikan US$1 per barel itu menambah sekitar Rp6 triliun defisit. Namun, bahkan dengan asumsi harga rata-rata US$100 per barel, kami sudah mengunci defisit di bawah 3%, sekitar 2,9%, jadi tidak masalah,” ujarnya saat ditemui di Wisma Danantara, Jakarta, Rabu (1/4/2026).

        Untuk meredam tekanan terhadap APBN, pemerintah telah menerapkan sejumlah kebijakan pengendalian konsumsi bahan bakar minyak (BBM), salah satunya melalui kebijakan work from home (WFH) setiap Jumat bagi aparatur sipil negara (ASN) dan sektor swasta.

        Kebijakan ini diklaim mampu menghemat anggaran hingga Rp6,2 triliun.

        Purbaya menilai, tanpa kebijakan WFH pun, defisit APBN sudah berada pada level yang terkendali. Ia menyebut penghematan tambahan dari kebijakan tersebut sebagai bonus.

        “Tanpa WFH pun, defisit sudah kami tekan di 2,9%. Jadi, jika ada penghematan tambahan, itu menjadi bonus,” terangnya.

        Ia juga menegaskan bahwa pendapatan negara serta langkah efisiensi belanja Kementerian/Lembaga (K/L) menjadi bantalan kuat bagi APBN. Menurutnya, pengalaman tahun sebelumnya menunjukkan defisit bisa lebih rendah dari proyeksi karena adanya tambahan penerimaan negara.

        “Tahun lalu tidak seketat yang kami perkirakan. Ada tambahan pendapatan yang menekan defisit lebih rendah. Dengan posisi 2,9% sekarang, saya tidak terlalu pesimis,” tuturnya.

        Baca Juga: Defisit Dijaga, APBN Tetap Kuat! Purbaya: Jangan Khawatir, Anggaran Tidak Akan Morat-Marit

        Baca Juga: Purbaya Proyeksi Ekonomi Kuartal I 2026 Tumbuh 5,5 Persen

        Baca Juga: Purbaya Klaim APBN Mampu Redam Kenaikan Harga Minyak hingga US$100 per Barel

        Selain itu, pemerintah juga memiliki Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp420 triliun yang dapat dimanfaatkan sebagai bantalan fiskal jika kondisi ekonomi memburuk.

        Namun, Purbaya menegaskan penggunaan SAL akan menjadi opsi terakhir.

        “Saya tidak akan menggunakan SAL kecuali dalam kondisi sangat terpaksa. Artinya, kondisi keuangan negara kita saat ini masih sangat baik dan memiliki bantalan yang cukup kuat,” tegasnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Cita Auliana
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: