Kredit Foto: Getty Images
Pada pukul 6.00 AM EST hari Selasa, ribuan karyawan Oracle terbangun dan mendapati pekerjaan mereka telah berakhir.
Tanpa peringatan sebelumnya, mereka menerima email singkat, yang menyatakan hari itu adalah hari terakhir mereka kerja.
“Kami menyampaikan beberapa berita sulit terkait posisi Anda.”
“Setelah mempertimbangkan dengan cermat kebutuhan bisnis Oracle saat ini, kami telah memutuskan untuk menghapus peran Anda sebagai bagian dari perubahan organisasi yang lebih luas."
"Akibatnya, hari ini adalah hari kerja terakhir Anda,” tulis email tersebut, Selasa (31/3/2026).
Skala PHK ini tergolong sangat besar.
Diperkirakan antara 20.000 hingga 30.000 karyawan, atau sekitar 18% dari total tenaga kerja Oracle yang mencapai 162.000 orang di seluruh dunia, terdampak.
Divisi yang paling terpukul meliputi Pendapatan, Ilmu Kesehatan, serta operasi SaaS, yang masing-masing dilaporkan kehilangan sekitar 30% staf.
Oracle menolak memberikan komentar terbuka terkait skala PHK secara keseluruhan.
Informasi lebih luas justru banyak beredar dari laporan karyawan di media sosial seperti Reddit, X, dan LinkedIn.
Langkah efisiensi ini terjadi di tengah ambisi besar Oracle membangun infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Menurut laporan CTech, perusahaan diketahui telah mengambil utang baru sebesar 58 miliar dolar AS hanya dalam dua bulan terakhir, untuk mendanai pembangunan pusat data berbasis AI.
Melalui PHK ini, Oracle menargetkan pembebasan arus kas sebesar 8 hingga 10 miliar dolar AS.
Secara finansial, kondisi perusahaan terbilang kontras.
Oracle mencatat lonjakan laba bersih hingga 95% pada kuartal terakhir, menjadi 6,13 miliar dolar AS.
Namun, harga sahamnya justru anjlok lebih dari setengah sejak puncaknya pada September 2025, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap besarnya belanja modal untuk AI. (*)
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Yaspen Martinus
Tag Terkait: