Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Melihat Praktik Kyushoku, Program MBG di Jepang yang Tak Cuma Makan Tapi Pembentukan Karakter Anak

        Melihat Praktik Kyushoku, Program MBG di Jepang yang Tak Cuma Makan Tapi Pembentukan Karakter Anak Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Jauh sebelum program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia, pemerintah Jepang sudah menerapkan program makan siang sekolah (kyushoku).

        Tidak sekadar mengenyangkan perut dan memenuhi standar gizi nasional, makan siang di sekolah ini dirancang secara khusus sebagai wadah edukasi rasa, kemandirian, dan interaksi sosial antarsiswa.

        Dikutip dari Japanese Food Craftsman, "Inside Japan's MOST Impressive Elementary School Lunch", proses persiapannya, staf dapur sekolah bekerja dengan sangat teliti dan higienis.

        Salah satu menu favorit yang disorot adalah Ayam Tandoori. Untuk menyesuaikan dengan lidah anak-anak, daging ayam direndam terlebih dahulu di dalam campuran yogurt dan bubuk kari. Teknik ini dinilai efektif untuk melembutkan tekstur daging sekaligus menghilangkan bau amisnya.

        Baca Juga: Dapur MBG Pondok Kelapa Disuspend BGN Tanpa Batas Waktu Usai 72 Orang Keracunan

        Pihak sekolah menyadari bahwa makanan bergizi tidak selalu disukai anak-anak pada awalnya.

        "Terkadang ada siswa yang menangis atau tidak mau menyentuh makanannya karena bahan atau rasanya tidak familiar di rumah. Namun, ini adalah bagian dari pelatihan indra pengecap dan kebiasaan mengunyah. Harapannya, mereka perlahan-lahan terbiasa dengan rasa makanan sehat tersebut," jelas salah satu pendidik di sekolah itu.

        Selain asupan gizi, nilai jual utama dari program makan siang di sekolah ini adalah penerapan sistem "Interaksi Lintas Kelas". Saat jam makan siang tiba, para siswa kelas 1 SD akan dipasangkan dan makan bersama kakak tingkat mereka di kelas 6.

        Sistem ini memberikan dampak positif bagi kedua belah pihak. Bagi siswa kelas 6, kegiatan ini memupuk rasa tanggung jawab karena mereka harus mengayomi adik kelas, seperti memberi semangat agar mau memakan wortel hingga mengajari cara melipat kotak susu bekas.

        Sementara bagi siswa kelas 1, kehadiran kakak kelas sangat membantu mereka beradaptasi dengan kehidupan sekolah.

        Momen makan siang yang diawali dengan doa bersama ini diakhiri dengan kegiatan bersih-bersih bergotong royong. Pemandangan ompreng makanan yang kembali ke dapur dalam keadaan bersih tanpa sisa, seringkali diselipkan dengan pesan terima kasih tertulis dari siswa, menjadi penyemangat tersendiri bagi para pekerja dapur.

        Sekolah menerapkan pendidikan karakter cinta sesama (Love for Neighbors) dan kebijaksanaan. Melalui pembentukan karakter ini kedisiplinan dari meja makan, pihak sekolah berharap benih kebaikan yang ditanam di bangku SD ini dapat mencetak generasi penerus yang membawa kedamaian bagi dunia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: