Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Gerakan Biopori Rumah Tangga, Wamen LH Tawarkan Solusi Konkret Cegah Banjir

        Gerakan Biopori Rumah Tangga, Wamen LH Tawarkan Solusi Konkret Cegah Banjir Kredit Foto: Ist
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pemerintah menegaskan komitmennya dalam mengantisipasi banjir, khususnya di wilayah Jabodetabek, di tengah potensi curah hujan yang masih tinggi pada April 2025.

        Salah satu langkah nyata dilakukan melalui penyerahan bantuan unit biopori dan alat pembuat lubang biopori untuk 10 desa di Kecamatan Cisarua oleh Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Diaz Hendropriyono. 

        Penyerahan tersebut berlangsung dalam rangkaian peringatan Hari Air Sedunia yang diselenggarakan KLH/BPLH dengan tema “Water and Gender” di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor.

        “Hari ini kami serahkan bantuan unit biopori dan alat lubang biopori untuk 10 desa, masing-masing 50 unit biopori, untuk mencegah banjir,” ujar Wamen Diaz, dikutip dari siaran pers KLH, Senin (6/4).

        Wamen Diaz menjelaskan pemasangan biopori di wilayah tersebut diperlukan mengingat Kecamatan Cisarua merupakan bagian dari kawasan hulu Daerah Aliran Sungai Ciliwung yang perlu dijaga keseimbangan airnya.

        Ia pun mendorong masyarakat untuk menanam unit pipa biopori di rumah tangga masing-masing sekaligus dengan menanam pohon. “Idealnya, setiap rumah harus punya unit biopori, supaya tidak ada genangan, dan air bisa langsung turun ke tanah, jadi ada keseimbangan air, dan mengurangi risiko banjir. Jadi sebaiknya setiap rumah tanam satu pohon dan lubang biopori,” ucapnya.

        Wamen Diaz menambahkan bahwa menjaga keseimbangan air penting mengingat jumlah air bersih yang sangat sedikit. “Bumi itu 71% air, tapi dari 71% itu tidak semua bisa dipakai, yang bisa dipakai hanya 2%, dan 2% tersebut, mayoritas berada di Kutub Utara dan Kutub Selatan”.

        Dengan ini, Wamen Diaz mengingatkan masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, khususnya di sumber air. “Air bersih disini itu ditemukan di sungai dan danau, tapi jumlahnya makin lama makin sedikit karena banyaknya sampah, maka dari itu, kita harus jaga air ini”.

        Baca Juga: Pemprov DKI Pastikan Perangkat Pengendalian Banjir Berfungsi Optimal

        Selain itu, Wamen Diaz menjelaskan bahwa kelebihan air juga dapat menimbulkan dampak negatif sehingga penanaman lubang biopori menjadi penting. “Jangan sampai kekurangan air dan juga kelebihan air, kalau kelebihan akan jadi banjir, maka kita harus menjaga keseimbangan air masuk dan air keluar”.

        Kegiatan juga dilanjutkan dengan penyerahan simbolis bibit pohon, tiga unit perahu karet, serta unit pipa biopori dan alat pembuat lubang biopori. Selanjutnya, dilakukan penanaman 1.500 pohon serta pembuatan sumur resapan di Agrowisata Gunung Mas.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
        Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

        Bagikan Artikel: