Kredit Foto: Azka Elfriza
Pemerintah menempuh berbagai langkah untuk meredam kenaikan harga tiket pesawat, salah satunya dengan menghapus bea masuk suku cadang pesawat menjadi 0%. Kebijakan ini ditujukan untuk menekan biaya operasional maskapai sekaligus meningkatkan daya saing industri penerbangan nasional.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyambut positif kebijakan tersebut. Ia menilai penghapusan bea masuk akan memberikan ruang efisiensi bagi maskapai.
“Kami ingin juga menyampaikan terima kasih kepada Pak Menteri Ekonomi dan juga Menteri Keuangan yang telah berkenan untuk menghapus bea masuk untuk suku cadang pesawat, sehingga ke depannya diharapkan dengan pengurangan atau penghapusan bea masuk suku cadang pesawat maka akan mengurangi beban biaya operasional dari maskapai penerbangan nasional kita,” ujar Dudy, Senin (6/4/2026).
Sebagai informasi, pemerintah menetapkan penurunan bea masuk suku cadang pesawat menjadi 0% yang nilainya per tahun bisa mencapai sekitar Rp500 miliar. Dengan penghapusan tarif tersebut, maskapai diharapkan memiliki ruang lebih besar untuk menjaga efisiensi operasional.
“Jadi suku cadang pesawat itu diberikan biaya masuk 0% sehingga diharapkan bisa juga menurunkan biaya operasional daripada maskapai penerbangan,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
Baca Juga: Harga Tiket Pesawat Naik hingga 13%, Pemerintah Siap Gelontorkan Anggaran Triliunan!
Baca Juga: Imbas Konflik Global, INACA Minta Tiket Pesawat dan Surcharge Naik 15%
Lebih lanjut, kebijakan ini juga diarahkan untuk memperkuat industri maintenance, repair, and operations (MRO) dalam negeri. Pemerintah memproyeksikan kebijakan ini dapat meningkatkan aktivitas ekonomi nasional sekaligus memberikan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB).
"Kebijakan ini diperkirakan untuk memperkuat daya saing industri MRO dengan potensi aktivitas ekonomi bisa meningkat sekitar Rp700 juta per tahun dan tentunya bisa mendukung daripada output PDB itu bisa sampai dengan Rp1,49 miliar dan menciptakan lapangan kerja langsung sekitar 1.000 orang dan yang tidak langsung bisa sampai mendekati tiga kali," ujarnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: