Trump Usul AS Ambil Alih Selat Hormuz, Perebutan Kontrol Energi Memanas
Kredit Foto: Google Earth
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengusulkan agar Amerika Serikat mengambil alih pungutan biaya transit kapal di Selat Hormuz sebagai respons terhadap rencana Iran yang ingin menerapkan aturan pelayaran dan biaya lintas di jalur strategis tersebut.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya tensi geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan sekutunya di kawasan Timur Tengah.
Trump menyampaikan gagasan tersebut saat merespons pertanyaan wartawan mengenai kemungkinan Iran menetapkan tarif bagi kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Ia menilai Amerika Serikat sebaiknya memungut biaya sendiri daripada memberikan kendali tersebut kepada pihak Iran.
"Bagaimana kalau kita saja yang memungut biaya lintasnya? ... Saya pikir kita saja yang melakukannya daripada mereka," kata Trump merespons pertanyaan wartawan tentang kemungkinan Iran menetapkan tarif kepada kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz.
Lebih lanjut, Trump menegaskan bahwa pihaknya memiliki konsep untuk mengambil peran dalam pengelolaan pungutan tersebut.
"Kami punya konsepnya di mana kami yang memungut biaya," ucap Presiden AS, menambahkan.
Di sisi lain, menurut laporan Sputnik, Alaeddin Boroujerdi yang merupakan anggota komisi keamanan nasional dan politik luar negeri di Parlemen Iran sebelumnya menyampaikan bahwa Teheran berencana menerapkan aturan baru di Selat Hormuz.
Dalam aturan tersebut, Iran akan menjamin keamanan pelayaran, namun dengan kewajiban biaya transit bagi kapal yang melintas.
Boroujerdi juga menegaskan bahwa tidak ada kapal yang dapat melewati Selat Hormuz tanpa izin dari Iran apabila aturan tersebut diberlakukan. Hal ini menunjukkan ambisi Iran untuk memiliki kontrol lebih besar terhadap salah satu jalur perdagangan energi paling vital di dunia.
Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran semakin meningkat setelah serangan gabungan yang dilancarkan pada 28 Februari lalu yang menyebabkan kerusakan infrastruktur serta korban jiwa di kalangan sipil.
Iran kemudian melakukan serangan balasan terhadap wilayah Israel dan sejumlah pangkalan militer Amerika di kawasan Timur Tengah.
Eskalasi konflik tersebut berdampak langsung pada aktivitas pelayaran global, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dan LPG dari kawasan Teluk ke pasar internasional.
Baca Juga: Iran Tegaskan Akan Ada Aturan Baru Bagi Negara Lain Melewati Selat Hormuz
Gangguan pada jalur ini bahkan sempat menghentikan lalu lintas kapal dan memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Akibat terganggunya distribusi energi melalui Selat Hormuz, sejumlah negara mulai merasakan dampak berupa kenaikan harga bahan bakar.
Situasi ini menegaskan bahwa stabilitas di kawasan tersebut memiliki pengaruh besar terhadap kondisi ekonomi global, terutama pada sektor energi dan logistik internasional.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: