Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Di Tengah Blokade Selat Hormuz, Trump Klaim Iran Sangat Inginkan Kesepakatan Damai

        Di Tengah Blokade Selat Hormuz, Trump Klaim Iran Sangat Inginkan Kesepakatan Damai Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan bahwa pemerintahannya telah menerima panggilan telepon dari pihak Iran pada Senin (13/4) pagi waktu setempat.

        Trump mengeklaim Teheran "sangat ingin" mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang tengah berlangsung.

        Pernyataan ini sekaligus mengisyaratkan bahwa Washington juga memiliki niat serupa untuk mencari jalan keluar diplomatik.

        Meski Trump tidak merinci apakah AS telah menyetujui putaran perundingan lanjutan sebelum masa gencatan senjata berakhir pada 21 April, sejumlah media AS melaporkan bahwa peluang dialog masih terbuka lebar bagi kedua belah pihak.

        Dalam pernyataannya, Trump secara tegas menitikberatkan isu nuklir sebagai syarat utama terwujudnya kesepakatan damai.

        "Kami telah dihubungi oleh pihak Iran. Mereka sangat menginginkan kesepakatan. Ini soal nuklir, soal fakta bahwa mereka tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Iran, catat ini. Jika mereka tidak setuju dengan hal tersebut, maka tidak akan pernah ada kesepakatan," tegas Trump.

        Saat ini, upaya diplomasi masih terus berjalan. Menurut laporan, mediator dari Pakistan, Mesir, dan Turkiye tengah berpacu dengan waktu untuk menghidupkan kembali negosiasi AS-Iran sebelum tenggat waktu gencatan senjata berakhir.

        "Kita belum menemui jalan buntu. Pintu negosiasi belum tertutup. Kedua belah pihak masih terus menawar, situasinya ibarat di pasar," ujar seorang sumber regional kepada Axios.

        Para analis lokal menilai tarik-ulur masih terjadi. Washington mendesak Teheran untuk segera menghentikan pengayaan uranium dan menyerahkan persediaan uranium tingkat tinggi mereka. Di sisi lain, Iran menuntut pencairan dana yang dibekukan serta pelonggaran sanksi ekonomi secara masif.

        Menariknya, sinyal diplomasi dari Trump ini muncul hanya beberapa jam setelah militer AS memberlakukan blokade laut yang ketat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Washington bahkan mengancam akan menghancurkan kapal Iran mana pun yang berani mendekati zona blokade AS di Selat Hormuz.

        Melalui platform Truth Social, Donald Trump mengeklaim bahwa 34 kapal telah melintasi Selat Hormuz pada Minggu (12/4), angka tertinggi sejak jalur perdagangan energi global itu ditutup menyusul serangan besar-besaran AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu. Namun, klaim ini bertolak belakang dengan laporan perusahaan data maritim Kpler, yang mencatat hanya ada 14 kapal yang melintas pada hari itu.

        Berdasarkan analisis para pejabat AS yang dikutip Axios, tekanan militer dan blokade di Selat Hormuz ini sengaja dipertahankan sebagai bagian dari strategi negosiasi. Langkah ini dinilai efektif untuk mencegah Iran menggunakan jalur pelayaran vital tersebut sebagai alat tawar dalam meja perundingan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: