Jadi Delegasi Indonesia, Jazuli Juwaini Serukan Aksi Nyata IPU Hentikan Agresi dan Cegah Perang Regional Timur Tengah
Kredit Foto: Ist
Eskalasi konflik di Timur Tengah yang kian memanas memicu keprihatinan global. Melalui Sidang Parlemen Dunia atau Inter-Parliamentary Union (IPU) yang digelar di Istanbul, Turki (15–19 April 2026), Delegasi Parlemen Republik Indonesia menyerukan aksi nyata untuk menghentikan agresi dan mencegah pecahnya perang regional yang lebih meluas.
Seruan tegas ini disuarakan oleh Jazuli Juwaini yang hadir membawa misi diplomasi perdamaian dalam kapasitasnya sebagai Utusan Tetap IPU untuk Urusan Timur Tengah dari Parlemen RI.
Dalam forum bergengsi tersebut, Jazuli menekankan bahwa krisis di Timur Tengah saat ini sudah melampaui batas lokal dan berevolusi menjadi ancaman global. Ia menggarisbawahi bahwa akar dari seluruh rentetan kekerasan ini adalah agresi Israel terhadap bangsa Palestina.
"Selama penjajahan dan kekerasan terhadap Palestina belum dihentikan, stabilitas kawasan tidak akan pernah benar-benar tercapai. Kemerdekaan Palestina adalah kunci utama untuk memutus rantai konflik ini," tegas Jazuli di hadapan delegasi parlemen dunia.
Secara khusus, Anggota DPR RI dari Fraksi PKS ini juga menyoroti memanasnya perseteruan antara Israel dan Iran. Dinamika ini, menurutnya, telah menyeret negara-negara di kawasan, termasuk negara Teluk, ke dalam pusaran ketegangan militer tingkat tinggi.
Jika dibiarkan, dampaknya dipastikan merugikan seluruh dunia. Jalur perdagangan strategis akan terganggu, ketegangan geopolitik memuncak, dan ancaman krisis ekonomi serta energi menjadi tak terhindarkan.
Jazuli mengingatkan bahwa pendekatan militer terbukti gagal menyelesaikan masalah dan hanya melahirkan tragedi kemanusiaan. Puluhan ribu korban jiwa berjatuhan, krisis pengungsi tak terbendung, dan infrastruktur luluh lantak. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa dunia sedang menghadapi krisis kemanusiaan berskala besar.
Sebagai Utusan Tetap IPU untuk Urusan Timur Tengah, Jazuli mendesak organisasi tersebut mengambil langkah yang lebih berani dan konkret. Ia meminta agar IPU tidak lagi sekadar berhenti pada retorika pernyataan atau kecaman semata.
IPU dituntut memimpin aksi global terkoordinasi guna mendesak seluruh pihak—termasuk Israel, Amerika Serikat, dan Iran untuk kembali ke meja perundingan.
"Dunia harus memastikan kepatuhan terhadap hukum internasional tanpa standar ganda. Kegagalan dalam menegakkan hukum internasional selama inilah yang menjadi faktor utama mengapa konflik terus berlarut panjang," sorotnya tajam.
Menutup pernyataannya, Jazuli kembali menegaskan posisi Indonesia di mata dunia. Komitmen Indonesia dalam mendukung kemerdekaan Palestina bukanlah sekadar pilihan politik, melainkan amanat langsung dari konstitusi dan bagian dari sejarah perjuangan bangsa.
Oleh karena itu, Indonesia berkomitmen untuk terus berada di garis depan dalam mengupayakan perdamaian lewat berbagai jalur diplomasi internasional.
“Ini bukan sekadar konflik geopolitik, tetapi tragedi kemanusiaan. Dunia tidak boleh terus membiarkan penderitaan ini. Sudah saatnya menghentikan agresi, menghentikan perang, dan mengedepankan keadilan serta kemanusiaan bagi rakyat Palestina dan negara-negara terdampak konflik,” pungkas Jazuli.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: