Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Lebih dari 1,5 Juta Serangan Backdoor Hantam Indonesia Sepanjang 2025

        Lebih dari 1,5 Juta Serangan Backdoor Hantam Indonesia Sepanjang 2025 Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah serangan backdoor tertinggi di Asia Tenggara sepanjang 2025, dengan lebih dari 1,5 juta deteksi.

        Lonjakan ini menegaskan ancaman siber terhadap bisnis semakin serius, dan membutuhkan pengawasan serta respons yang lebih kuat.

        Berdasarkan laporan Kaspersky, sepanjang 2025 terdapat lebih dari 3 juta serangan backdoor yang terdeteksi dan diblokir di kawasan Asia Tenggara.

        Indonesia dan Vietnam menjadi kontributor terbesar, masing-masing mencatat 1.583.035 dan 1.296.924 kasus.

        Angka ini jauh melampaui negara lain seperti Thailand, Malaysia, Singapura, dan Filipina.

        Backdoor merupakan salah satu jenis ancaman siber paling berbahaya, karena memungkinkan penyerang mendapatkan akses administratif jarak jauh ke sistem korban tanpa terdeteksi.

        Setelah masuk, pelaku dapat mencuri data, memantau aktivitas, hingga mengendalikan sistem secara diam-diam.

        Kaspersky menyoroti adanya tren peningkatan serangan dari tahun ke tahun (YoY) di kawasan SEA.

        Indonesia mencatat kenaikan sebesar 36%, sementara Malaysia mengalami lonjakan tertinggi hingga 86%.

        “Secara keseluruhan, bisnis di Asia Tenggara mengalami peningkatan serangan backdoor sebesar 17% pada tahun 2025, dibandingkan tahun 2024."

        "Meningkatnya deteksi ini, menyoroti pergeseran kritis dalam lanskap ancaman di seluruh Asia Tenggara, dari ‘menerobos ke dalam sistem’ menjadi ‘bertahan di dalam sistem’,” kata Adrian Hia, Managing Director untuk Asia Pasifik di Kaspersky.

        Tak hanya itu, sistem Kaspersky juga mencatat lebih dari 46 juta ancaman pada perangkat bisnis di Asia Tenggara, yang sebagian besar berasal dari media offline seperti USB, CD, atau file terenkripsi.

        Meskipun ada sedikit penurunan serangan pada perangkat B2B di Asia Tenggara (-6%), Vietnam, Indonesia, dan Thailand mencatat volume ancaman tertinggi pada tahun 2025.

        Indonesia termasuk salah satu negara dengan volume ancaman perangkat tertinggi, mencapai lebih dari 14 juta deteksi sepanjang tahun 2025.

        Menurut Hia, posisi Asia Tenggara sebagai bagian penting dari rantai pasok global, membuat kawasan ini terus menjadi target utama serangan siber.

        Ditambah dengan tren kerja jarak jauh dan penggunaan perangkat yang tidak selalu terkelola, risiko serangan pun semakin meluas.

        “Sebagai simpul penghubung utama ke rantai pasokan global, Asia Tenggara telah dan akan tetap menjadi target utama kampanye siber berbahaya."

        "Terlebih lagi, seiring dengan terus berlanjutnya pengaturan kerja jarak jauh dan hybrid, yang seringkali melibatkan penggunaan perangkat yang tidak terkelola, permukaan serangan hanya akan terus meluas," ulasnya.

        Baca Juga: Lebih dari 1 Juta Rekening Diretas, Kaspersky Soroti Perubahan Pola Serangan Siber Finansial

        Oleh karena itu, Hia berpendapat sangat penting bagi bisnis di seluruh wilayah untuk berinvestasi secara memadai dalam pengamanan perangkat mereka, tidak hanya untuk mencegah potensi kerugian finansial dan data, tetapi juga untuk menghindari terbentuknya saluran bagi kejahatan siber lebih lanjut.

        Untuk menghadapi ancaman ini, Kaspersky merekomendasikan sejumlah langkah seperti memperbarui perangkat lunak secara rutin, mencadangkan data, hingga menggunakan solusi keamanan canggih dan meningkatkan kemampuan respons insiden. (*)

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
        Editor: Yaspen Martinus

        Bagikan Artikel: