Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Platform investasi digital Pluang mencatat perubahan preferensi investasi pengguna di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Emas menjadi instrumen paling diminati, mengungguli aset lain seperti kripto dan saham, seiring meningkatnya kebutuhan investor terhadap aset yang dinilai lebih stabil.
Co-founder Pluang Claudia Kolonas mengatakan tren investasi pengguna bersifat dinamis dan dipengaruhi situasi global, termasuk tensi geopolitik yang mendorong perpindahan dana ke instrumen lindung nilai.
“Iya, kalau sebenarnya kita karena kita multi-aset jadi kita juga lihat investasi tuh ada musim-musimnya. Jadi sekarang yang lagi hot nih emas. Kalau misalnya lagi perang dan lain-lain, nasabah selama mereka diversifikasi pasti tetap akan dapat keuntungannya,” ujar Claudia usai acara peluncuran Industry Consultative Paper oleh Asosiasi Fintech Indonesia di Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Menurut dia, emas menjadi pilihan utama bukan hanya karena dianggap aman, tetapi juga karena dapat dimiliki dalam bentuk fisik. Fitur penarikan emas fisik di platform disebut ikut mendorong minat investor.
“Pengguna paling besar masih tetap emas, karena juga emas di kita itu bisa ditarik fisik. Jadi banyak sekali kayak kemarin apalagi pas kasus lagi perang, ketidakpastian dunia, dan lain-lain, banyak nasabah kita pengen pegang riil barangnya. Itu menjadi opsi juga sebenarnya ketika berinvestasi,” imbuhnya.
Pluang mencatat sekitar 80% penggunanya memiliki portofolio emas. Sementara itu, sekitar 30% pengguna bertransaksi aset kripto, yang menunjukkan instrumen digital tersebut masih diminati meski porsinya lebih kecil.
Baca Juga: Turun Gocap, Emas Antam Dijual Rp2.830.000 per Gram pada 22 April 2026
Baca Juga: Target Rampung Akhir April, OJK Ungkap ETF Emas Telah Masuk Tahap Final
Baca Juga: Merdeka Gold Temukan Cadangan Emas Baru 500 Meter dari Tambang Pani
Claudia menekankan pentingnya diversifikasi dalam menghadapi volatilitas pasar. Menurut dia, kombinasi beberapa aset dapat membantu menyeimbangkan risiko ketika salah satu instrumen mengalami tekanan harga.
“Kalau di Pluang sendiri memang asetnya banyak, jadi pengguna bisa diversifikasi dan kalau misalnya satu portofolio lagi turun, misalnya kripto lagi turun, mungkin emas lagi naik. Atau saham lagi naik jadi menyeimbangi. Diversifikasi itu penting untuk mengurangi risiko dari seorang punya portofolio,” jelasnya.
Dari sisi basis pengguna, Pluang mencatat 15 juta pengguna terdaftar hingga 2026. Adapun jumlah pengguna aktif mencapai beberapa juta akun. Perusahaan menyebut pertumbuhan pengguna meningkat signifikan hingga empat kali lipat dalam satu tahun terakhir.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri