Peringatan ke Investor, Elite Bankir Sebut Pasar Saham Bakal Turun Drastis
Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Bank of England memperingatkan bahwa pasar saham global berpotensi mengalami penurunan karena harga aset saat ini dinilai belum sepenuhnya mencerminkan berbagai risiko ekonomi. Kekhawatiran ini muncul di tengah ketidakpastian global yang terus meningkat akibat perang dari Iran dan Amerika Serikat.
Wakil Gubernur Bank of England, Sarah Breeden mengatakan bahwa pasar saat ini berada di level tinggi meskipun risiko masih besar.
Baca Juga: IHSG Ambles 3,06% ke Level 7.152 di Akhir Sesi Pertama, 642 Saham Merah!
"Ada banyak risiko di luar sana, namun harga aset berada di level tertinggi sepanjang masa," kata Breeden.
Ia memperingatkan bahwa penyesuaian pasar kemungkinan akan terjadi pada suatu waktu, meskipun tidak merinci kapan atau seberapa besar koreksi tersebut.
Bank of England sebelumnya menilai konflik yang sedang berlangsungĀ telah memberikan guncangan besar terhadap ekonomi global. Dampaknya meliputi pertumbuhan yang melemah, inflasi lebih tinggi, dan biaya pinjaman yang meningkat.
Breeden mengungkapkan kekhawatiran bahwa beberapa risiko bisa terjadi secara bersamaan, termasuk guncangan ekonomi makro, hilangnya kepercayaan pada kredit swasta, serta penyesuaian valuasi teknologi dan kecerdasan buatan.
"Hal yang membuat saya khawatir adalah kemungkinan berbagai risiko terjadi secara bersamaan... apa yang terjadi dalam kondisi seperti itu dan apakah kita siap menghadapinya?" ujarnya.
Ia menyoroti pertumbuhan pesat sektor kredit swasta yang kini mencapai sekitar US$2,5 triliun dalam dua dekade terakhir. Menurutnya, sektor ini belum pernah diuji dalam skala sebesar saat ini.
Breeden menilai risiko utama bukan berasal dari sistem perbankan tradisional, melainkan dari potensi tekanan pada pasar kredit swasta yang semakin kompleks dan terhubung dengan sistem keuangan global.
Peringatan ini menjadi sinyal bagi investor global untuk lebih berhati-hati dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi, terutama di tengah kombinasi risiko geopolitik, inflasi, dan volatilitas pasar.
Perang Iran dan Amerika Serikat sendiri masih berlangsung dengan kedua belah pihak beradu kekuatan melalui blokade dan penyiataan kapal dalam wilayah dari Selat Hormuz.
Sebelumnya, Angkatan Laut Garda Revolusi Iran (IRGC) mengatakan bahwa pihaknya telah menembaki dua kapal bernama MSC Francesca dan Epaminondas. Kedunya berbendera Panama dan Liberia. Pihaknya menilai bahwa kedua kapal tersebut telah beroperasi tanpa izin serta memanipulasi sistem navigasi mereka. Tuduhan ini menjadi dasar tindakan penyitaan oleh Iran.
Epaminondas diketahui dilaporkan ditembaki sekitar 15 mil laut barat laut Oman. Kapal tersebut mengalami kerusakan pada bagian anjungan setelah terkena tembakan dan granat berpeluncur roket dari kapal cepat milik IRGC.
Ia sendiri membawa 21 awak yang terdiri dari warga Ukraina dan Filipina. Tidak ada laporan korban jiwa, namun kapal mengalami kerusakan signifikan akibat serangan tersebut.
MSC Francesca di sisi lain juga terkena tembakan sekitar delapan mil laut dari wilayah Iran. Namun kapal tersebut dilaporkan tidak mengalami kerusakan dan seluruh awak dinyatakan selamat. Satu kapal lainnya juga ditembaki, tetapi berhasil melanjutkan pelayaran tanpa kerusakan.
Sementara Amerika Serikat mengatakan bahwa pihaknya mencegat setidaknya tiga tanker berbendera dari Iran di Asia. Ia dilaporkan memaksa kapal-kapal tersebut mengalihkan jalurnya dan menjauh dari posisi mereka dekat wilayahdari India, Malaysia, dan Sri Lanka.
Laporan menyebutkan bahwa salah satu kapal yang dicegat adalah supertanker bernama Deep Sea. Kargo kapal tersebut dilaporkan sebagian bermuatan minyak mentah dan terakhir terdeteksi di lepas pantai dari Malaysia.
Kapal lainnya yang terkena blokade bernama Sevin. Ia juga turut bermuatan minyak mentan dan memiliki kapasitas maksimum 1 juta barel dan membawa muatan berisi hingga sekitar 65%.
Baca Juga: Gegara Kebijakan Trump, Supporter Berisiko Ditahan Amerika Serikat Saat Piala Dunia 2026
Supertanker Dorena juga diketahui menjadi salah satu yang terkena dampak blokade yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Ia membawa penuh sekitar 2 juta barel minyak mentah dan kini dikawal oleh kapal perusak dari Angkatan Laut Amerika Serikat di Samudra Hindia. Kapal ini sebelumnya terdeteksi di lepas pantai dari India.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar