Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Inggris Siap Pimpin Operasi Militer Buka Selat Hormuz, Kerahkan Drone dan Kapal Perang

Inggris Siap Pimpin Operasi Militer Buka Selat Hormuz, Kerahkan Drone dan Kapal Perang Kredit Foto: Annisa Nurfitri
Warta Ekonomi, Jakarta -

Inggris bersiap memimpin operasi militer internasional untuk membuka kembali akses di Selat Hormuz yang terganggu akibat konflik di Timur Tengah. Langkah ini menandai eskalasi keterlibatan Barat dalam menjaga jalur distribusi energi global.

Pemerintah Inggris melalui Royal Navy disebut akan mengambil peran utama dalam operasi koalisi bersama sekutu. Negara seperti Amerika Serikat dan Prancis juga dilibatkan untuk memastikan keamanan pelayaran tetap terjaga.

Melansir The Times, operasi ini dirancang sebagai misi gabungan dengan fokus awal pada pengamanan jalur laut. Inggris akan memanfaatkan keunggulan teknologi dan armada militernya untuk menjalankan misi tersebut.

Sebagai bagian dari strategi, Inggris mempertimbangkan penggunaan kapal perang maupun kapal komersial yang dimodifikasi sebagai mothership. Kapal ini akan menjadi pusat kendali bagi sistem tanpa awak dalam operasi laut.

Tahap awal operasi difokuskan pada pembersihan ranjau laut menggunakan teknologi otonom. Langkah ini dinilai penting karena adanya indikasi penempatan ranjau di jalur strategis tersebut.

Pejabat pertahanan Inggris menyebut operasi akan dilanjutkan dengan pengerahan kapal tanpa awak serta kapal perusak. Salah satu armada yang disiapkan adalah kapal perusak Type 45 dengan kemampuan pertahanan udara canggih.

“Kami memiliki kemampuan kelas dunia dalam perburuan ranjau secara otonom, serta kekuatan kapal perusak yang sangat mumpuni melalui Type 45. Selain itu, pengembangan konsep hybrid navy memberi kami peluang untuk meminimalkan risiko terhadap personel, sekaligus membantu mengamankan selat tersebut,” kata seorang pejabat. 

Konsep hybrid navy menjadi inti dari strategi yang diterapkan Inggris. Pendekatan ini menggabungkan teknologi tanpa awak dengan armada konvensional untuk meningkatkan efektivitas sekaligus meminimalkan risiko terhadap personel.

Meski terdapat ancaman, sejumlah kapal dari negara seperti India, Pakistan, dan China dilaporkan masih dapat melintas melalui jalur tertentu. Namun, kondisi ini dinilai belum cukup menjamin stabilitas jangka panjang.

Ketegangan di kawasan meningkat sejak serangan militer oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Konflik tersebut memicu korban jiwa dalam jumlah besar serta aksi balasan dari Iran.

Iran kemudian meluncurkan serangan drone dan rudal ke berbagai target, termasuk wilayah Teluk yang menjadi basis militer Amerika. Eskalasi ini semakin memperburuk situasi keamanan di kawasan.

Gangguan di Selat Hormuz berdampak langsung terhadap distribusi energi global. Jalur ini diketahui menjadi rute utama bagi sekitar 20 juta barel minyak setiap hari.

Baca Juga: Kawasan Asia Paling Terdampak dari Terganggunya Selat Hormuz Akibat Perang

Akibatnya, biaya pengiriman meningkat dan harga minyak global mengalami tekanan naik. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap dampak ekonomi yang lebih luas di berbagai negara.

Rencana operasi militer ini menunjukkan upaya serius Inggris dan sekutunya dalam menjaga stabilitas jalur energi. Namun, langkah tersebut juga berpotensi memicu ketegangan baru dengan Iran di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda mereda.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: