Geopolitik Memanas, Industri Kripto RI Turun 31% pada Kuartal I-2026
Kredit Foto: Istimewa
Industri aset kripto menghadapi tekanan kuat akibat meningkatnya tensi geopolitik global yang mendorong investor menjauhi instrumen berisiko tinggi. Dampaknya terlihat pada penurunan nilai transaksi kripto di Indonesia sebesar 31% secara tahunan menjadi Rp75,8 triliun pada kuartal I-2026, dibandingkan Rp109,5 triliun pada periode sama tahun lalu. Di level global, kapitalisasi pasar kripto juga turun 20,4% menjadi US$2,4 triliun per 31 Maret 2026 dan merosot 45% dari puncaknya pada Oktober 2025.
Tekanan tersebut dinilai sejalan dengan perubahan perilaku investor global yang beralih ke aset aman seperti emas dan surat utang pemerintah Amerika Serikat (US Treasury), seiring meningkatnya risiko konflik dan ketidakpastian ekonomi dunia.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda mengatakan aset kripto menjadi kurang menarik dalam situasi global yang memanas karena karakter harganya volatil.
“Dalam kondisi geopolitik yang memanas seperti saat ini, investor akan memilih instrumen investasi yang lebih aman. Instrumen investasi dengan harga yang volatile seperti kripto, menjadi tidak menarik. Akhirnya transaksi kripto di global dan di Indonesia juga mengalami penurunan jadi memang kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari konflik global,” ujar Nailul Huda, saat dihubungi, Jakarta, Sabtu (25/4/2026).
Di pasar domestik, perlambatan transaksi berlangsung konsisten sepanjang tiga bulan pertama tahun ini. Pada Januari 2026, nilai transaksi tercatat Rp29,24 triliun, kemudian turun menjadi Rp24,33 triliun pada Februari, dan kembali melemah ke Rp22,2 triliun pada Maret. Tren tersebut menunjukkan minat investor retail maupun trader jangka pendek masih tertahan di tengah volatilitas pasar global.
Di pasar internasional, tekanan juga tercermin dari penurunan harga sejumlah aset kripto utama sejak puncak Oktober 2025 hingga akhir Maret 2026. Bitcoin turun 38%, Ethereum 47%, XRP 46%, BNB 44%, dan Solana 55%. Koreksi tajam ini ikut menekan kepercayaan investor dan memperlambat aktivitas perdagangan global.
Selain faktor geopolitik, Nailul menilai kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut memperburuk sentimen di pasar kripto. Saat yield naik, investor cenderung memindahkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman namun tetap memberikan imbal hasil kompetitif.
“Di sisi lain, Treasury Yield meningkat yang dapat mengguncang pasar modal dan juga kripto. Tinggal bagaimana nanti pasar merespons ini dalam jangka menengah dan panjang,” katanya.
Menurut dia, jika harga minyak terus naik akibat konflik geopolitik, maka tekanan inflasi global dapat bertahan lebih lama. Kondisi itu berpotensi membuat suku bunga tinggi dan yield obligasi AS tetap menarik.
“Jika harga minyak terus meningkat, maka bisa jadi Treasury Yield akan tetap tinggi dan permintaan kripto akan rendah. Mereka akan mengalihkan investasinya ke US Treasury. Hingga ada penurunan rate-nya atau pasar melihat Treasury Yield sekarang menjadi nilai minimal baru,” ujarnya.
Baca Juga: Anak Muda RI Makin Gila Kripto, Jadi Investasi Pertama Sebelum Saham
Baca Juga: Bitcoin Jadi Target, Brasil Izinkan Penggunaan Aset Kripto Sitaan Demi Lawan Kejahatan
Baca Juga: Bhutan Jual Ratusan Bitcoin Lagi, Cadangan Turun 66%
Meski kondisi jangka pendek masih berat, Nailul menilai industri kripto tetap bergerak dalam pola siklus yang berulang.
“Tapi saya juga melihat siklus 4 tahunan di dalam industri kripto. Setelah turun di tahun 2021-2023, aset kripto kembali naik di 2024 meskipun turun lagi di tahun 2025 dan 2026 ini. Hal yang sama juga terjadi di beberapa periode sebelumnya. Bisa jadi baru bisa naik di tahun 2028 untuk transaksi, harga, dan market cap dari aset kripto, termasuk Bitcoin dan lainnya,” katanya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: