Bitcoin Turun ke Level Terendah sejak April 2026 usai Iran-AS Kembali Memanas
Kredit Foto: Istimewa
Harga Bitcoin kembali tertekan di tengah meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar itu sempat jatuh di bawah level US$73.000 pada perdagangan Kamis waktu setempat dan menyentuh titik terendah sejak 13 April 2026.
Tekanan terhadap Bitcoin muncul setelah Amerika Serikat melancarkan serangan ke wilayah selatan Iran yang kemudian dibalas oleh Garda Revolusi Iran dengan menyerang pangkalan militer Amerika Serikat. Eskalasi konflik tersebut memicu gejolak pasar global, mendorong harga minyak melonjak, sekaligus meningkatkan kekhawatiran investor terhadap risiko inflasi global.
Berdasarkan data pasar, harga minyak mentah Brent melonjak hampir 4% ke kisaran US$96 per barel. Lonjakan harga energi itu memicu kekhawatiran bahwa tekanan inflasi global akan kembali meningkat di tengah ekspektasi suku bunga tinggi yang masih bertahan.
Situasi tersebut turut memukul aset berisiko, termasuk pasar kripto. Bitcoin tercatat turun ke level US$73.366,78 sebelum akhirnya bergerak fluktuatif. Pelemahan ini sekaligus memperpanjang fase konsolidasi pasar kripto dalam beberapa pekan terakhir.
Ketegangan geopolitik juga memperkecil harapan tercapainya gencatan senjata permanen antara Amerika Serikat dan Iran. Berdasarkan data pasar prediksi Polymarket, probabilitas tercapainya gencatan senjata permanen hingga akhir bulan turun menjadi hanya 8%, merosot tajam dari posisi 70% pada akhir pekan lalu.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mencermati rilis data inflasi Amerika Serikat, khususnya indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) yang menjadi acuan utama Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Kepala Riset Mercado Bitcoin, Rony Szuster, menyebut pasar kripto masih cukup kuat secara fundamental meski menghadapi tekanan jangka pendek akibat konflik geopolitik.
“Pasar kripto secara struktural masih relatif tangguh karena didukung akumulasi jangka panjang serta perkembangan narasi infrastruktur AI dan blockchain,” ujarnya mengutip CoinDesk.
Baca Juga: Tom Lee: Bear Market Kripto Berakhir, Bitcoin Jadi Pendorong Siklus Baru
Baca Juga: Harga Bitcoin (8/5) Turun: Waspada Reli Bear Market dan Aksi Ambil Untung!
Namun demikian, menurutnya, pasar saat ini masih sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan arus dana institusi yang kembali aktif setelah libur di Amerika Serikat.
“Dalam jangka pendek, pasar masih sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan kembalinya arus dana institusi setelah libur di AS. Kondisi ini membuat Bitcoin bergerak dalam fase konsolidasi, sementara altcoin bergerak lebih selektif,” kata Szuster.
Kekhawatiran pasar juga meningkat karena konflik Iran-AS berpotensi mengganggu stabilitas Selat Hormuz, jalur strategis distribusi minyak dunia. Gangguan pada jalur tersebut dinilai dapat memperbesar risiko lonjakan harga energi global dan memicu volatilitas lebih lanjut di pasar keuangan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: