Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Target Fintech 8% Masih Realistis, Tapi Ada 'Bom Waktu' di Baliknya

        Target Fintech 8% Masih Realistis, Tapi Ada 'Bom Waktu' di Baliknya Kredit Foto: PayerMax
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai target pertumbuhan pembiayaan fintech sebesar 6–8% yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih realistis, tetapi perlu diimbangi dengan kualitas pertumbuhan di tengah meningkatnya risiko kredit.

        “Kalau dikaitkan dengan target pertumbuhan pembiayaan 6–8%, saya melihat ini lebih ke isu quality of growth. Secara agregat, target masih realistis karena ditopang pemulihan ekonomi,” ujarnya kepada Warta Ekonomi, Senin (4/5/2026).

        Namun, ia mengingatkan bahwa pertumbuhan tersebut berpotensi didorong oleh pelonggaran standar kredit yang dapat menimbulkan risiko di masa depan.

        “Tapi kalau pertumbuhan didorong oleh pelonggaran standar kredit, kita hanya menunda masalah,” tambahnya.

        Ia menekankan, laju pertumbuhan tidak dapat menjadi satu-satunya indikator. Kualitas pertumbuhan juga perlu diperhatikan, termasuk risk-adjusted return dan stabilitas rasio gagal bayar untuk menjaga keberlanjutan industri dalam jangka panjang.

        Di sisi lain, dalam industri fintech, biaya meningkat seiring dengan pengetatan regulasi. Kenaikan biaya, termasuk biaya penagihan, dinilai menjadi salah satu risiko yang selama ini belum sepenuhnya tercermin dalam model bisnis.

        Baca Juga: Jaga Pertumbuhan Ekonomi, Pemerintah Perkuat Industri Manufaktur di Tengah Tekanan Global

        Baca Juga: Bidik Pertumbuhan Ekonomi 6%, Sinergi Fiskal, Moneter dan Dunia Usaha jadi Kunci Utama

        Baca Juga: Pembangunan Infrastruktur untuk Pertumbuhan Ekonomi

        “Selama ini, sebagian biaya sosial dari penagihan ekstrem ‘dibayar’ oleh masyarakat luas, bukan oleh pelaku transaksi,” ujarnya.

        Terakhir, Yusuf mengingatkan bahwa peningkatan biaya harus dijaga agar tidak memicu pembatasan kredit secara berlebihan, khususnya bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta sektor informal. Menurutnya, keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas menjadi kunci utama.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Azka Elfriza
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: