Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Kementerian Perdagangan (Kemendag) melaporkan kinerja impor Indonesia pada Maret 2026 sebesar USD 19,21 miliar, terkoreksi 8,08 persen dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/MtM).
Meski mengalami penurunan secara bulanan, impor Indonesia masih mencatatkan kenaikan 1,51 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan Maret 2025.
Penurunan impor bulanan ini dipengaruhi pelemahan impor nonmigas sebesar 15,14 persen (MtM) di tengah lonjakan impor migas yang meningkat signifikan sebesar 58,73 persen.
Menteri Perdagangan Budi Santoso juga menjelaskan, penurunan impor pada Maret 2026 terjadi pada seluruh golongan penggunaan barang, dengan kontraksi terdalam pada impor barang modal yang turun 15,75 persen, diikuti barang konsumsi sebesar 11,64 persen serta bahan baku dan penolong sebesar 5,21 persen (MtM).
“Penurunan ini dipengaruhi faktor musiman libur panjang Idulfitri, tekanan geopolitik di kawasan Timur Tengah, serta pelemahan permintaan domestik,” imbuhnya, dikutip dari siaran pers Kemendag, Rabu (6/5).
Secara kumulatif, impor Indonesia Januari–Maret 2026 mencapai USD 61,30 miliar, naik 10,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (CtC). Pertumbuhan ini terutama ditopang impor nonmigas yang naik 12,16 persen, sementara impor migas terkontraksi sebesar 1,72 persen.
Sementara itu, berdasarkan golongan penggunaan barang (BEC), seluruh komponen impor mencatatkan pertumbuhan. Kenaikan tertinggi dicatatkan barang modal sebesar 24,02 persen, diikuti bahan baku dan penolong 6,89 persen serta barang konsumsi 6,12 persen (CtC). Peningkatan impor barang modal ini didorong, antara lain, oleh permintaan terhadap komoditas strategis seperti telepon pintar, komputer, serta pesawat terbang.
Dari sisi komoditas, lonjakan impor nonmigas tertinggi terjadi pada kendaraan udara dan bagiannya (HS 88) sebesar 546,55 persen (CtC). Selain itu, impor garam, belerang, batu, dan semen (HS 25) tumbuh 71,95 persen; diikuti bijih logam, terak dan abu (HS 26) sebesar 60,64 persen; serta logam mulia, perhiasan, dan permata (HS 71) naik 44,71 persen. Kenaikan juga terjadi pada berbagai produk kimia (HS 38) yang tumbuh 36,31 persen.
Baca Juga: Dari PLN hingga Indomaret, Inabuyer Buka Pintu Kemitraan UMKM
Baca Juga: Produksi Industri RI Tertekan, PMI April Masuk Zona Siaga
Berdasarkan negara asal, impor nonmigas Indonesia masih didominasi dari Tiongkok, Australia, dan Jepang dengan kontribusi gabungan mencapai 52,97 persen. Namun demikian, pertumbuhan impor tertinggi tercatat dari beberapa negara nontradisional, antara lain, Meksiko yang meningkat 383,37 persen, Spanyol 177,70 persen, serta Oman 138,90 persen (CtC) yang menunjukkan semakin beragamnya sumber pasokan impor Indonesia.
Mendag Busan juga menegaskan, pemerintah menjaga momentum kinerja perdagangan dengan terus memperkuat ketahanan sektor domestik. “Kami akan terus memperluas pasar dengan tetap menjaga stabilitas industri dalam negeri serta memastikan kebijakan yang adaptif terhadap dinamika global,” pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait: