Rupiah Menguat ke Level Rp17.387 Berkat Sentimen Positif Domestik dan Global
Kredit Foto: Antara/Reno Esnir
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat ke level Rp17.387 pada penutupan perdagangan Rabu (6/4/2026). Mata uang Garuda menguat 37 poin dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.424 per USD.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan penguatan rupiah terjadi seiring data perekonomian Indonesia yang tumbuh positif pada kuartal I-2026. Ekonomi RI tercatat tumbuh 5,61% lebih baik dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
"Capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61% menjadi indikasi bahwa tren ekonomi nasional mulai bergerak ke arah yang lebih kuat dibandingkan periode sebelumnya," kata Ibrahim kepada wartawan.
Meski begitu, kata Ibrahim, percepatan ini belum sepenuhnya dipahami oleh pelaku pasar, yang justru masih menunjukkan kekhawatiran dan cenderung menarik dana dari pasar modal.
Oleh karena itu, pemerintah wajib menjaga momentum pertumbuhan ini pada kuartal berikutnya melalui berbagai kebijakan lanjutan. Koordinasi dengan Bank Indonesia juga terus diperkuat, khususnya dalam menjaga likuiditas sistem keuangan.
Baca Juga: Gubernur BI Sebut Rupiah Saat Ini Undervalued di Tengah Tekanan Global
Baca Juga: Rupiah Jebol Rp17.400, BI Bongkar Dalangnya Suku Bunga AS dan Harga Minyak
Di sisi lain, pemerintah juga tengah menyiapkan paket stimulus tambahan untuk mendorong aktivitas ekonomi dalam waktu dekat. Dengan langkah tersebut, diharapkan akselerasi pertumbuhan ekonomi dapat terus berlanjut dan memberikan dampak positif bagi aktivitas usaha serta kepercayaan pasar ke depan.
Sementara dari eksternal, kata Ibrahim, penguatan rupiah dipicu oleh respons positif pasar terhadap pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang mengindikasikan kemungkinan kesepakatan damai dapat tercapai untuk mengakhiri perang dengan Iran.
"Pada hari Selasa, Trump secara tak terduga mengatakan ia akan menghentikan sementara operasi untuk membantu mengawal kapal melalui Selat Hormuz, dengan alasan kemajuan menuju kesepakatan komprehensif dengan Iran, tanpa memberikan rincian tentang kesepakatan tersebut," kata Ibrahim.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: