Kredit Foto: Antara/Aprillio Akbar
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp17.528 pada perdagangan Selasa (11/5/2026). Mata uang garuda melemah 114 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.414 per USD.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah terjadi dipicu batalnya negosiasi untuk mengakhiri perang antara Amerika Serikat dan Iran. Iran menyoroti proposal disampaikan Presiden AS, Donald Tump, yang terdapat perbedaan mencolok membuat ketegangan kembali meningkat.
"Donald Trump mengatakan pada hari Senin bahwa gencatan senjata dengan Iran dalam kondisi kritis menunjuk pada ketidaksepakatan atas beberapa tuntutan, seperti penghentian permusuhan di semua lini, pencabutan blokade angkatan laut AS, dimulainya kembali penjualan minyak Iran, dan kompensasi atas kerusakan perang," jelas Ibrahim kepada wartawan.
Iran juga menekankan kedaulatan atas Selat Hormuz, yang menangani sekitar seperlima aliran minyak dan gas alam cair global. Sementara itu, pemerintahan Trump mengumumkan rencana pada hari Senin untuk meminjamkan 53,3 juta barel minyak mentah dari Cadangan Minyak Strategis AS (SPR) sebagai bagian dari upaya untuk meredam pasar minyak.
"Data pelacakan kapal menunjukkan bahwa pengiriman minyak mentah dari SPR AS sedang dalam perjalanan ke Turki, menandai pengiriman pertama ke negara Mediterania tersebut," ungkapnya.
Sementara dari dalam negeri pergerakan rupiah kali ini dipicu data pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I tumbuh sebesar 5,61 persen. Angka tersebut merupakan realisasi terbesar sejak lima tahun terakhir, bahkan jadi yang tertinggi di antara negara G20.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.500, Puan Warning Pemerintah: Jangan Sampai Indonesia Terpuruk!
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.500, Purbaya: Kita Bantu BI Besok dengan Bond Market
Namun, angka pertumbuhan PDB itu harus selalu dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu (year to year). Kuartal I 2025 adalah salah satu realisasi terburuk dalam beberapa tahun terakhir yang hanya sebesar 4,87 persen.
"Angka 5,61% terlihat tinggi bukan karena ekonomi tiba-tiba maju pesat, tapi karena kita membandingkannya dengan titik yang memang sedang rendah.Dalam pelajaran statistik, ini namanya base effect, atau efek basisi," kata Ibrahim.
Selain itu, jika diteliti lebih jauh, pertumbuhan kuartal I 2026 ini tak bisa dikatakan sehat. Ada banyak variabel yang perlu dicermati dan diwaspadai .
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: