- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Percepat Implementasi CNG, Bahlil: Devisa Kita Setiap Tahun Beli LPG Sampai Rp150 Triliun
Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan komitmen pemerintah untuk menekan ketergantungan impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) melalui percepatan implementasi Compressed Natural Gas (CNG) 3 kilogram. Langkah strategis ini dibidik untuk menyelamatkan devisa negara yang bocor hingga Rp150 triliun per tahun.
Bahlil mengungkapkan, saat ini konsumsi LPG nasional mencapai 8,6 juta ton per tahun, di mana sebagian besar dipenuhi melalui impor. Hal ini memberikan tekanan besar pada neraca perdagangan dan stabilitas devisa nasional.
"Devisa kita setiap tahun hanya untuk membeli LPG saja itu sekitar Rp120 triliun sampai Rp150 triliun. Apalagi kalau harga minyak dunia naik, pasti lebih besar lagi," ujar Bahlil saat ditemui usai pelantikan pejabat eselon II di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Efisiensi Subsidi
Selain masalah devisa, Bahlil menyoroti beban fiskal yang sangat besar dari sisi subsidi energi.
Berdasarkan Buku II Nota Keuangan beserta RAPBN 2026, subsidi untuk LPG tabung 3 kg tahun ini dialokokasikan sebesar Rp 80,3 triliun, naik 16,88% dibandingkan outlook tahun ini yang berada di angka Rp 68,7 triliun.
''Nah, tidak ada cara lain dalam rangka efisiensi adalah kita mencari akal agar bahan baku yang ada di negara kita itu bisa dikonversi untuk mengganti LPG. Kira-kira gitu,'' imbuhnya.
Baca Juga: Kementerian ESDM Jadikan Pulau Jawa sebagai Pilot Project Implementasi CNG
Baca Juga: Bahlil Sebut CNG 3 Kg Bakal Disubsidi, Harga Minimal Setara Elpiji
Pemanfaatan CNG dinilai menjadi solusi paling logis karena Indonesia memilikistok gas bumi yang melimpah (oversupply). Secara teknis, CNG menggunakan komponen gas C1 dan C2 yang tersedia di dalam negeri, berbeda dengan LPG yang berbasis C3 dan C4 yang bahan bakunya masih harus diimpor.
"Tidak ada cara lain dalam rangka efisiensi selain mencari akal agar bahan baku yang ada di negara kita bisa dikonversi untuk mengganti LPG. Dengan CNG, kita tidak mengeluarkan devisa ke luar negeri karena gasnya dari dalam negeri sendiri," tegas Bahlil.
Menunggu Uji Coba Lemigas
Meski CNG untuk sektor hotel dan restoran (kapasitas 12 kg dan 20 kg) sudah berjalan sukses, Bahlil menyebut implementasi untuk masyarakat kecil (3 kg) masih dalam tahap penggodokan teknologi tabung. Keamanan (safety) menjadi syarat mutlak sebelum produk ini dilempar ke pasar.
Saat ini, kementerian tengah melakukan exercise dan uji kelayakan tabung CNG 3 kg melalui Lemigas. Bahlil berharap, jika uji coba ini rampung dan dinyatakan aman, Indonesia bisa segera memulai proses penghentian impor LPG secara bertahap.
"Kita lagi tes teknologinya. Kalau sudah diuji oleh Lemigas dan aspek keselamatannya selesai, kapasitas produksinya mau berapa pun di Indonesia ada, karena gas kita oversupply," imbuhnya.
Terkait harga, Bahlil memastikan bahwa pemerintah akan tetap mengedepankan perlindungan terhadap daya beli masyarakat.
Baca Juga: CNG 3 Kg Siap Masuk Dapur Warga Jawa Tahun Ini
"Arahan Bapak Presiden, subsidi tetap diberikan untuk rakyat. Kita upayakan harganya minimal sama dengan LPG 3 kg, atau bahkan bisa di bawah itu," pungkasnya.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas), Laode Sulaeman mengutarakan, rencananya bahan bakar ini akan mulai diperkenalkan dan diproduksi secara masif dalam tiga bulan ke depan.
''Penerapannya) Bertahap di kota-kota besar dulu di Jawa," tandasnya dalam acara talkshow dan konferensi pers bertajuk "CNG & LNG untuk Rakyat" di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra