Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Jaga Surat Utang Negara, Purbaya Aktifkan Kembali Bond Stabilization Fund

        Jaga Surat Utang Negara, Purbaya Aktifkan Kembali Bond Stabilization Fund Kredit Foto: Cita Auliana
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, berencana mengaktifkan Bond Stabilization Fund (BSF) sebagai instrumen internal untuk menjaga stabilitas pasar obligasi pemerintah di tengah lonjakan imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN). 

        Langkah ini diambil setelah yield obligasi pemerintah naik ke level 6,32% dari sebelumnya sekitar 5,9%, yang berpotensi menambah beban pembayaran bunga utang dalam APBN.

        Purbaya menjelaskan, dana stabilisasi obligasi tersebut sebelumnya telah tersedia, namun belum pernah digunakan. Kini, pemerintah memutuskan menghidupkan instrumen itu untuk meredam gejolak pasar.

        “Saya punya Bond Stabilization Fund sendiri. Itu sebelumnya tidak pernah diaktifkan, jadi sekarang saya hidupkan,” kata Purbaya di Jakarta, Rabu (6/5/2026).

        Purbaya menegaskan, pengaktifan BSF bukan menjadi sinyal bahwa perekonomian Indonesia tengah berada dalam kondisi krisis. Kebijakan ini justru disiapkan sebagai langkah antisipatif agar pasar obligasi tetap likuid, yield lebih terkendali, dan aktivitas perdagangan surat utang kembali bergairah.

        Melalui BSF, pemerintah dapat melakukan pembelian kembali (buyback) SUN dalam jumlah terbatas untuk menopang harga obligasi di pasar. Strategi ini dinilai penting untuk mencegah tekanan jual yang berlebihan dari investor, terutama saat yield bergerak naik tajam.

        “Dalam beberapa bulan terakhir, yield naik cukup cepat. Saat saya menyuntikkan likuiditas, yield sempat 5,9%, kemudian meningkat bertahap menjadi 6,1 hingga 6,7%. Jika yield naik, harga surat utang akan turun, yang menyebabkan investor mengalami capital loss,” ucapnya.

        Baca Juga: Rencana Tunaikan Ibadah Haji, Purbaya: Doanya Supaya Ekonomi RI Bagus Terus

        Baca Juga: Tak Ingin Ketergantungan Dolar, Purbaya Bakal Terbitkan Panda Bond di China Bulan Depan

        Ia menambahkan, kenaikan yield yang terlalu cepat berisiko memicu aksi jual besar-besaran, khususnya dari investor asing yang terikat pada aturan investasi tertentu. Karena itu, pemerintah menyiapkan berbagai sumber pendanaan untuk mendukung pelaksanaan buyback SUN.

        “Anggarannya berasal dari (berbagai pos). Nanti akan saya jelaskan," jelasnya.

        Meski belum memerinci besaran dana yang akan digelontorkan, ia memastikan Kementerian Keuangan akan koordinasi dengan Bank Indonesia guna menjaga stabilitas pasar keuangan sekaligus menopang nilai tukar rupiah.

        “Belum tahu anggarannya, tapi kami akan koordinasi dengan Bank Indonesia. Saya akan berupaya menstabilkan nilai tukar rupiah melalui langkah-langkah internal,” ungkapnya.

        Pengaktifan BSF diperkirakan bisa dilakukan segera, bahkan diklaimnya bisa mulai berlaku “besok”, guna menghadapi kondisi pasar yang memerlukan tindakan cepat.

        Pemerintah menegaskan bahwa BSF ini berbeda dengan kerangka stabilisasi obligasi yang sebelumnya dimiliki KSSK dan Kementerian Keuangan, karena bersifat lebih fleksibel dan langsung dikelola secara internal.

        Sebagai informasi, BSF telah dikaji sejak era Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, namun hingga kini instrumen ini belum pernah diaktifkan. Kebijakan ini awalnya dirancang untuk menghadapi kemungkinan terburuk dari bencana keuangan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Cita Auliana
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: