Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Perkembangan Terkini Perang Timur Tengah: Konflik Meluas hingga Syarat Ketat Timnas Iran di Piala Dunia

        Perkembangan Terkini Perang Timur Tengah: Konflik Meluas hingga Syarat Ketat Timnas Iran di Piala Dunia Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah masih menunjukkan eskalasi yang belum mereda hingga saat ini.

        Negara di kawasan Teluk pun ikut terdampak langsung tensi panas konflik antar 2 negara tersebut. Dan berikut perkembangan terbaru dirangkum dari AFP.

        Penangkapan Jaringan Iran di Bahrain

        Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengumumkan bahwa aparat keamanan berhasil membongkar sebuah organisasi yang dituduh berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran. Dalam operasi tersebut, sebanyak 41 terduga anggota ditangkap.

        Bahrain yang merupakan negara berpenduduk mayoritas Syiah yang dipimpin oleh pemerintah Sunni dan menjadi lokasi pangkalan militer utama AS sebelumnya juga terdampak parah oleh serangkaian serangan Iran di perairan Teluk.

        Israel Perintahkan Evakuasi di Lebanon Selatan

        Militer Israel mendesak penduduk di lebih dari enam desa di Lebanon selatan untuk segera mengungsi guna mengantisipasi rencana serangan terhadap kelompok Hizbullah. Instruksi evakuasi ini dikeluarkan meskipun sebelumnya terdapat kesepakatan gencatan senjata dengan Lebanon untuk menghentikan pertempuran. Secara terpisah, otoritas Lebanon melaporkan bahwa sedikitnya satu orang tewas akibat serangan udara Israel di wilayah selatan negara tersebut.

        Syarat Ketat Iran di Piala Dunia 2026

        Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) memastikan tim nasional putra mereka akan tetap berpartisipasi dalam Piala Dunia 2026 musim panas ini. Namun, mereka menuntut negara tuan rumah Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada untuk menyetujui sejumlah syarat khusus di tengah memanasnya konflik Timur Tengah. Presiden FFIRI, Mehdi Taj, pada Jumat lalu mengajukan 10 persyaratan utama, di antaranya: jaminan penerbitan visa; penghormatan terhadap staf timnas, bendera, dan lagu kebangsaan Iran; serta pengamanan tingkat tinggi di bandara, hotel, dan rute menuju stadion pertandingan.

        Trauma Berat Para Pelaut

        Badan amal maritim memperingatkan bahwa ribuan pelaut yang tertahan di atas kapal di kawasan Teluk selama lebih dari dua bulan kini mengalami penderitaan mental dan trauma berat akibat ancaman pesawat nirawak (drone) dan rudal.

        "Mereka melihat drone dan rudal berterbangan, lalu melihat langsung bagaimana kapal-kapal dihantam serangan," ujar Gavin Lim, Kepala Jaringan Respons Krisis untuk Sailors' Society, sebuah lembaga amal pelaut asal Inggris. "Bisa dibayangkan bagaimana kecemasan dan ketakutan itu menumpuk. Mereka bertanya-tanya, 'Apakah kita hanya dijadikan umpan? Apakah kita akan menjadi korban hanya agar pihak tertentu bisa unjuk kekuatan?'"

        Trump Tunggu Respons Iran

        Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Jumat malam mengatakan kepada wartawan bahwa dirinya tengah menunggu respons Iran "malam ini" terkait proposal terbarunya mengenai kesepakatan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.

        Jet Tempur AS Lumpuhkan Tanker Iran

        Militer AS pada hari Jumat melaporkan bahwa pasukannya telah menembak dan melumpuhkan dua kapal tanker berbendera Iran yang nekat melanggar blokade maritim Amerika di pelabuhan-pelabuhan Iran.

        Komando Pusat AS (CENTCOM) merilis rekaman serangan di platform X dan menyatakan bahwa sebuah jet tempur F/A-18 Super Hornet milik Angkatan Laut AS "melumpuhkan kedua kapal tanker tersebut dengan menembakkan amunisi presisi tepat ke cerobong asap mereka, mencegah kapal-kapal pelanggar itu memasuki wilayah perairan Iran."

        Serangan Balasan Hizbullah

        Kelompok Hizbullah menyatakan telah meluncurkan rentetan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer di Israel. Aksi ini diklaim sebagai balasan atas gempuran baru-baru ini di Beirut serta serangan Israel yang terus berlangsung di wilayah selatan, di mana otoritas Lebanon melaporkan 11 warganya tewas pada hari Jumat.

        Kendali Selat Hormuz Ibarat 'Bom Atom'

        Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Mohammad Mokhber, mengeluarkan pernyataan keras dengan menyamakan posisi strategis Selat Hormuz dengan senjata pemusnah massal.

        "Selat Hormuz merupakan sebuah peluang yang sama berharganya dengan bom atom," tegasnya. "Memang, memiliki posisi yang memungkinkan Anda memengaruhi ekonomi global hanya melalui satu keputusan adalah peluang yang sangat besar."

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: