Kredit Foto: Istimewa
Banyak kajian menyebut, negara maju umumnya memiliki rasio pengusaha di atas 4 persen dari total populasi. Calon Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) bertekad mewakafkan dirinya sebagai jembatan untuk mewujudkan target tersebut.
Tahapan Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Hipmi telah memasuki fase debat kandidat yang diselenggarakan di BW Luxury Hotel, Jambi, Sabtu (9/5/2026). Dalam tahapan itu, Jona tampil percaya diri dengan menguasai persoalan dan solusi bagi pengusaha muda.
Sebagai anak yang lahir dari keterbatasan, Jona memahami ada sekitar 70 juta anak muda Indonesia yang ingin mengubah nasibnya. "Mimpi mereka hari ini, adalah mimpi saya 15 tahun yang lalu," ungkapnya saat ditemui wartawan, Sabtu (9/5/2026).
Menurut Jona, instrumen strategis untuk mengubah nasib adalah menjadi pengusaha. Sebab itu, ia ingin menjadi jembatan dan harapan bagi seluruh anak muda Indonesia untuk menjadi pengusaha.
"Tapi saya tidak bisa bergerak sendirian. Saya butuh dukungan dari teman-teman BPD, BPC, Hipmi Perguruan Tinggi, dan seluruh kader Hipmi untuk bersama-sama mewujudkan mimpi 70 juta anak muda Indonesia," pesan Jona.
Presiden Prabowo Subianto telah mematok target pertumbuhan ekonomi 8 persen. Menurut Jona, target itu bisa diraih jika seluruh pengusaha muda berkolaborasi. Sehingga, ia mengusung visi: menjadikan Hipmi sebagai rumah kolaborasi pengusaha muda yang inklusif dan berdaya saing global menuju Indonesia Emas 2045.
Pertama, swasembada pangan. Jona akan memperkuat UMKM agrikultur, memodernisasi pertanian, dan menjadikan ketahanan pangan sebagai fondasi keamanan nasional. Kedua, swasembada energi. Ia ingin mengoptimalkan energi terbarukan, mengurangi impor, mendorong B40 biosolar, hilirisasi energi dan pengembangan energi terbarukan untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Ketiga, hilirisasi industri. Caranya dengan menaikkan kelas pengusaha, dari yang semula trader menjadi produsen melalui Value-added sumber daya alam, investasi asing, transfer teknologi, dan akselerasi transformasi industri. Keempat, menaikkan limit Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Rp 500 juta menjadi Rp 2 miliar. "Perlu diperjuangkan agar UMKM punya ruang pembiayaan lebih besar untuk tumbuh dan naik kelas," tegas Jona.
Kelima, permudah akses dan syarat pencairan. Jona mengungkapkan, banyak UMKM berpotensi gagal mengakses kredit karena penilaian bank terlalu ketat. "Solusinya menaikkan limit, sekaligus menyederhanakan persyaratan," katanya. Keenam, mendorong pembiayaan daerah untuk UMKM. Jona berupaya mengonsolidasikan BUMD dan Pemda agar menjadi motor kredit UKM daerah, dengan Hipmi sebagai lead sector dalam pembangunan industri daerah.
Menurutnya, sebagai pahlawan ekonomi, UMKM harus mendapat afirmasi tersebut. Ia pun secara gamblang akan membuat UMKM naik kelas, memperoleh akses pembiayaan, menguasai teknologi digital, dan menembus pasar yang lebih luas.
"Mendorong UMKM go public. Caranya melalui digitalisasi dan AI agar UMKM lebih efisien, mengakses pasar global, dan menganalisis data pasar dengan lebih baik," urai Jona.
Baca Juga: Kisah Calon Ketua Umum BPP HIPMI 2026-2029 yang Lahir dari Keterbatasan Hingga jadi Pengusaha Muda
Ia juga akan memperkuat kolaborasi pusat dengan daerah. Instrumennya, bisa dengan membangun jenjang karir perkaderan yang jelas. Kader Hipmi harus berproses dari BPC ke BPD minimal satu periode, kemudian menuju BPP bagi yang sudah berpengalaman.
"Pastikan kaderisasi berkelanjutan. Program seperti Hipmi Go perlu dilanjutkan agar alumni dan kader tetap aktif, berkembang secara global, dan tidak berhenti setelah masa bakti berakhir," pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait: