Teriakan 'Hidup Jokowi' Hanya Tipu Daya? Prabowo Disebut Galau soal Hubungan dengan Geng Solo
Kredit Foto: Istimewa
Teriakan “Hidup Jokowi” yang pernah dilontarkan Presiden Prabowo Subianto dalam perayaan HUT ke-17 Gerindra pada Februari 2025 kembali menjadi sorotan.
Di balik pekik yang kala itu terdengar sebagai bentuk dukungan kepada Joko Widodo, muncul analisis bahwa momen tersebut justru menyimpan cerita berbeda mengenai hubungan politik keduanya.
Jurnalis senior Lukas Luwarso mengungkap pandangannya dalam podcast Madilog bersama Darmawan Sepriyossa. Menurut Lukas, teriakan tersebut bukan sekadar spontanitas atau bentuk dukungan kepada Jokowi, melainkan bagian dari strategi politik yang ia kaitkan dengan teori perang Sun Tzu.
Sebelum membahas lebih jauh soal hubungan Prabowo dan Jokowi, Lukas terlebih dahulu mengurai strategi Sun Tzu mengenai cara memenangkan peperangan tanpa harus berhadapan langsung dengan musuh. Ia kemudian mengaitkan konsep tersebut dengan dinamika politik yang terjadi antara Prabowo dan Jokowi.
Baca Juga: Survei IPO: Purbaya Jadi Menteri Terbaik Prabowo, yang Terburuk...
“Politik itu seperti air, harus fleksibel dan adaptif. Dan yang lima (teori Sun Tzu), yang paling penting. Jadi nanti teori Sun Tzu itu nomor lima akan kita jadikan sebagai basis fondasi menganalisis peperangan antara Prabowo dan Jokowi. (Teori) kelima adalah menggunakan tipu daya dan fleksibilitas psikologis tipu daya,” kata Lukas dalam tayangan YouTube Forum Keadilan TV, dikutip Minggu (9/8/2026).
Dari teori tersebut, Lukas kemudian menyoroti kembali pekik “Hidup Jokowi” yang disampaikan Prabowo di HUT Gerindra. Ia menilai teriakan itu justru memiliki makna politis yang lebih kompleks daripada sekadar ajakan untuk memberikan dukungan.
“Kalau orang cenderung hanya ingin mendukung, kenapa harus berteriak ‘Hidup Jokowi’? Nah, artinya waktu itu yang memang saya dapat info ya A1, A setengah malah, sebenarnya Prabowo sedang galau, karena ini tidak ada script. Jadi di internal Gerindra, waktu itu sudah mulai ada perselisihan dalam merespons bagaimana nih relasi Prabowo dan Jokowi,” ujarnya.
Lukas bahkan menyebut momen tersebut sebagai titik yang menandai berakhirnya hubungan harmonis antara Prabowo dan Jokowi. Ia mengaitkannya dengan teori kelima Sun Tzu yang menurutnya menitikberatkan pada tipu daya serta fleksibilitas psikologis.
“Nah, saya boleh katakan sekarang bahwa teriakan ‘Hidup Jokowi’ yang kontroversial itu adalah awal dari akhir hubungan yang harmonis antara Prabowo dan Jokowi. Nah, sekuel-nya akan mulai terungkap satu per satu bagaimana ‘Hidup Jokowi itu sebenarnya adalah poin kelima dari Sun Tzu tadi, tipu daya,” sambung Lukas.
Menurut Lukas, dinamika tersebut tidak dapat dilepaskan dari munculnya ketidaknyamanan di internal Gerindra terhadap narasi yang menggambarkan Prabowo seolah-olah berada di bawah pengaruh Jokowi. Narasi tersebut disebut menjadi salah satu persoalan yang ikut memengaruhi cara internal Gerindra melihat hubungan kedua tokoh.
Ia kemudian menyinggung pengumuman pencalonan Prabowo untuk kembali maju dalam Pilpres 2029 yang disampaikan saat HUT ke-17 Gerindra. Menurutnya, waktu pengumuman tersebut menjadi perhatian karena Prabowo baru sekitar enam bulan menjabat sebagai presiden.
“Waktu itu (HUT ke-17 Gerindra) diumumkan Prabowo akan maju lagi tahun 2029. Nah itu artinya baru 6 bulan (menjabat presiden) kok Prabowo sudah mau deklarasi, mau nyalon lagi 2029? Padahal yang beredar adalah ada kesepakatan (dengan Jokowi) Prabowo hanya akan bertahan maksimal 2,5 tahun. Rumor yang beredar,” ungkapnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: