Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Rupiah Terus Melemah, Pengamat Sebut Masalah Neraca Perdagangan dan Fiskal Jadi Sebab

        Rupiah Terus Melemah, Pengamat Sebut Masalah Neraca Perdagangan dan Fiskal Jadi Sebab Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pengamat kebijakan publik Muhammad Gumarang menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menunjukkan adanya persoalan serius pada neraca perdagangan dan kebijakan fiskal nasional. Ia menyebut kondisi tersebut membuat target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan pemerintah sulit tercapai.

        “Rupiah sulit selalu melemah akibat neraca perdagangan dan fiskal bermasalah,” kata Gumarang.

        Menurutnya, sejumlah kebijakan ekonomi yang ditempuh Menteri Keuangan Purbaya Sudewa, seperti suntikan likuiditas kepada Himbara, penahanan kenaikan cukai, hingga reformasi sistem Coretax, belum mampu memberikan dampak signifikan terhadap penguatan ekonomi nasional. Hal itu terlihat dari pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2026 yang dinilai masih berada di bawah target pemerintah.

        Gumarang mengatakan kurs rupiah yang terus bergerak di kisaran Rp17.140 per dolar AS mencerminkan lemahnya posisi perdagangan Indonesia di pasar global. Ia menilai impor yang lebih besar dibanding ekspor menyebabkan kebutuhan dolar meningkat dan memberi tekanan terhadap mata uang domestik.

        “Indonesia lebih banyak belanja dolar melalui impor dibanding pihak eksportir menggunakan rupiah, sehingga nilai tukar terus tertekan,” ujarnya.

        Ia juga menyoroti faktor eksternal seperti konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memicu ketidakpastian ekonomi global. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran dinilai berdampak besar terhadap kenaikan harga minyak dunia yang ikut membebani perekonomian Indonesia.

        Selain persoalan eksternal, Gumarang menilai kebijakan fiskal dalam negeri juga menjadi penyebab melemahnya rupiah. Ia menyoroti defisit fiskal yang terus terjadi serta postur APBN yang dinilai tidak ideal karena banyak anggaran digunakan untuk program dengan nilai besar namun belum efektif mendorong pertumbuhan ekonomi.

        “Postur anggaran yang tidak ideal dan cenderung politis membuat pemborosan anggaran serta menambah beban utang luar negeri dalam bentuk dolar,” kata Gumarang.

        Menurutnya, kondisi tersebut membuat pemerintah semakin bergantung pada utang luar negeri untuk menutup kebutuhan belanja negara. Akibatnya, tekanan terhadap rupiah semakin besar karena kewajiban pembayaran utang juga menggunakan mata uang dolar AS.

        Gumarang mendorong pemerintah mengambil langkah strategis dengan memperkuat ekspor dan menekan impor melalui penguatan produk dalam negeri. Ia juga meminta pemerintah menutup celah praktik mafia impor agar neraca perdagangan nasional bisa lebih sehat dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.

        “Penguatan produk dalam negeri dan peningkatan ekspor harus menjadi prioritas agar Indonesia tidak terus bergantung pada dolar,” ucap Gumarang.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Amry Nur Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: