Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Stok Aman, Tapi Kenapa MINYAKITA di Timur Tetap Mahal?

        Stok Aman, Tapi Kenapa MINYAKITA di Timur Tetap Mahal? Kredit Foto: Kemendag
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memastikan stok minyak goreng MINYAKITA dalam keadaan aman. Namun, harga di wilayah Timur Indonesia, khususnya Maluku dan Papua, masih bertahan tinggi.

        Menurut Mendag, persoalan utama bukan pada ketersediaan barang, melainkan distribusi. Karena itu, ia mendorong Bulog untuk mengintensifkan penyaluran MINYAKITA ke seluruh Indonesia, terutama ke wilayah Timur.

        Sementara itu, harga MINYAKITA di Sumatra dan Jawa relatif stabil, mendekati atau sama dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp15.700 per liter.

        Hal tersebut disampaikan Mendag saat meninjau komoditas barang kebutuhan pokok (bapok) di Pasar Palmerah, Jakarta pada Rabu, (13/5/2026). 

        “Stok aman, tidak ada masalah. Untuk Papua dan Maluku memang tinggi, dan Bulog siap menyuplai. Masalahnya ada di distribusi, oleh karena itu kami selalu meminta bantuan Bulog terutama untuk distribusi ke wilayah Timur,” ungkap Mendag Busan, dikutip dari siaran pers Kemendag, Jumat (15/5).

        Mendag Busan pun terus mendorong sinergi dengan para pemangku kepentingan dan badan-badan usaha milik negara bidang pangan (BUMN Pangan) untuk menjaga stabilitas harga pangan. Ia juga menekankan, saat ini distribusi minyak goreng hasil skema domestic market obligation (DMO) oleh BUMN Pangan telah melebihi 50 persen. Catatan tersebut telah melampaui kewajiban distribusi minyak goreng DMO minimal sebesar 35 persen.

        “Minimal 35 persen dan pada prinsipnya produsen tidak ada masalah. Artinya, kalau melebihi 35 persen tidak apa-apa. Sekarang sudah lebih dari 50 persen minyak goreng DMO yang tersalurkan melalui BUMN Pangan. Semoga semua lancar dan masalah distribusi di Papua serta Maluku cepat selesai,” kata Mendag Busan.

        Mendag Busan mengingatkan, MINYAKITA bukan merupakan minyak goreng subsidi, melainkan hasil dari skema DMO sebagai bentuk komitmen pelaku usaha untuk memasok pasar dalam negeri.

        Ia juga menekankan, Kemendag selalu memantau harga bapok di 514 kabupaten dan kota di 38 provinsi di Indonesia. Hasil pantauan dikumpulkan dan ditampilkan dalam dashboard Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kemendag melalui tautan https://sp2kp.kemendag.go.id.

        Berdasarkan pantauan di Pasar Palmerah, sejumlah komoditas bapok dijual sesuai atau di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) dan Harga Acuan (HA). Beberapa di antaranya, yaitu beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Bulog Rp12.500/kg, MINYAKITA Rp15.700/liter, daging ayam ras Rp40.000/kg, telur ayam ras Rp27.000/kg, cabai merah keriting Rp50.000/kg, cabai merah besar Rp55.000/kg, dan bawang putih honan Rp35.000/kg.

        Kemudian, minyak goreng kemasan premium Rp21.000/liter dan tepung terigu Rp12.000/kg. Selain itu, beras medium terpantau di Rp13.500/kg, beras premium Rp16.000/kg, gula pasir Rp18.000/kg, bawang merah Rp60.000/kg, dan cabai rawit merah Rp80.000/kg.

        Baca Juga: Harga Minyak Tak Akan Turun, Purbaya Prediksi Konflik Iran–AS Masih Panjang

        Baca Juga: Selat Hormuz Tertutup, Dunia Kehilangan 100 Juta Barel Minyak per Minggu

        Salah satu pedagang bapok di Pasar Palmerah, Eko, mengatakan, ia menjual minyak goreng MINYAKITA dalam kemasan dua liter dengan harga Rp31.400, atau sesuai HET Rp15.700/liter. Selain MINYAKITA, Eko juga menjual minyak goreng premium. Eko berharap stok MINYAKITA terus tersedia di pasar untuk memudahkan masyarakat mendapatkan minyak goreng. “Saya inginnya stok ada terus,” ujar Eko.

        Sementara itu, pedang lain di Pasar Palmerah, Anwar, menjual minyak goreng premium berbagai merek dengan harga Rp21.000/liter. Minyak goreng premium ini juga laris dicari pembeli. Selain itu, Anwar menjual telur ayam ras dengan harga Rp27.000/kg atau di bawah HET. Anwar berharap, harga minyak goreng bisa semakin stabil. “Kalau bisa (harganya) terus stabil supaya semakin terjangkau masyarakat,” kata Anwar.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
        Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: