Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Donald Trump Klaim China Siap Borong Minyak AS, Harga Minyak Langsung Meroket

        Donald Trump Klaim China Siap Borong Minyak AS, Harga Minyak Langsung Meroket Kredit Foto: AFP
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Harga minyak dunia melonjak tajam pada Jumat (15/5/2026), dipicu kombinasi faktor geopolitik dan pernyataan kontroversial dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

        Minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli naik 3,25 persen ke level 104,46 dollar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) ikut terdongkrak 2,11 persen menjadi 103,30 dollar AS per barel. Kenaikan ini mencerminkan reaksi cepat pasar terhadap ketegangan global yang belum mereda.

        Pemicu utamanya datang dari klaim Trump yang menyebut China telah sepakat membeli minyak mentah dari Amerika Serikat dalam jumlah besar.

        “Mereka telah setuju ingin membeli minyak dari Amerika Serikat, mereka akan pergi ke Texas, kita akan mulai mengirim kapal-kapal China ke Texas, Louisiana, dan Alaska,” kata Trump dikutip dari CNBC, Jumat (15/5/2026).

        Namun hingga kini, pemerintah China belum memberikan konfirmasi resmi terkait rencana tersebut. Ketidakjelasan ini justru menambah lapisan ketidakpastian di pasar energi global.

        Di saat yang sama, faktor geopolitik ikut memperkeruh situasi. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang belum sepenuhnya mereda terus membayangi stabilitas pasokan energi dunia.

        Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak global menjadi titik krusial dalam dinamika ini. Meski ada dorongan dari AS dan China agar jalur tersebut tetap terbuka, realitas di lapangan menunjukkan risiko masih tinggi.

        Sejumlah insiden turut memperkuat kekhawatiran pasar. Sebuah kapal dilaporkan disita Iran di perairan dekat Uni Emirat Arab dan diarahkan ke wilayah Iran. Di sisi lain, kapal kargo asal India juga dilaporkan tenggelam di lepas pantai Oman, menambah ketegangan di kawasan.

        Pemerintah AS menyebut Presiden China, Xi Jinping, menegaskan pentingnya menjaga Selat Hormuz tetap terbuka dan menolak militerisasi kawasan tersebut.

        Baca Juga: Xi Jinping Ajak Trump ke Zhongnanhai, Kompleks Rahasia dengan Pohon Berusia 1.000 Tahun

        Menteri Keuangan AS juga menyatakan China memiliki kepentingan besar untuk memastikan jalur tersebut kembali normal, mengingat ketergantungan mereka terhadap pasokan energi global.

        Namun, di tengah klaim, insiden, dan konflik yang belum selesai, pasar minyak kini bergerak di atas fondasi yang rapuh.

        Kenaikan harga yang terjadi bukan hanya soal permintaan dan pasokan, tetapi juga cerminan dari meningkatnya ketegangan geopolitik yang bisa berubah arah kapan saja.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Wahyu Pratama

        Bagikan Artikel: