Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Jagung Rp6.200 per Kilo, Pendapatan Petani Terdongkrak

        Jagung Rp6.200 per Kilo, Pendapatan Petani Terdongkrak Kredit Foto: BPMI
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kenaikan harga jagung hingga menembus Rp6.200 per kilogram mulai dirasakan berdampak terhadap pendapatan petani di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Rupanya, perbaikan harga jual hasil panen tersebut membantu menutup biaya produksi yang sebelumnya menjadi beban akibat tingginya ongkos usaha tani.

        Ketua Kelompok Tani (Poktan) Ngudi Makmur, Tasmuri, mengatakan harga jual jagung saat ini jauh lebih baik dibanding periode sebelumnya yang hanya berkisar Rp3.800 hingga Rp4.000 per kilogram.

        “Kalau jual hasil tani, alhamdulillah sudah baik. Dulu harga jagung hanya Rp3.800-Rp4.000. Tapi sekarang sampai 6 (ribu) lebih. Sekarang sampai 6 (ribu) lebih, Rp6.200 per kilo. Berarti petani sangat gembira, karena biayanya banyak,” ujarnya dalam kegiatan panen raya jagung serentak kuartal II yang dihadiri Presiden Prabowo Subianto di Tuban, dikutip pada Minggu (17/5/2026).

        Dengan adanya kenaikan harga tersebut, kata Tasmuri, menjadi kabar positif bagi petani jagung di tengah kebutuhan biaya produksi yang terus meningkat.

        Diketahui bahwa Poktan Ngudi Makmur sendiri mengelola lahan seluas 631,7 hektare dengan sekitar 750 petani penggarap yang sebagian besar menggantungkan pendapatan dari komoditas jagung.

        Lebih lanjut, selain harga jual yang membaik, Tasmuri menilai akses pupuk kini lebih mudah dan harganya lebih terjangkau dibanding sebelumnya. Ia mengatakan, petani dulunya sempat menghadapi antrean panjang dan kesulitan memperoleh pupuk.

        “Kalau sekarang banyak perubahan. Kalau dulu, masalah pupuk, tetap pupuk yang diandalkan petani. Yang dulu sangat sulit, ngantri-ngantri. Ada perubahan, (oleh) Pak Prabowo harganya diturunkan. Yang dulu lebih mahal, sekarang turun dan pelayanannya sangat sederhana, ya, mudah dicari,” tuturnya.

        Baca Juga: Kementan Pastikan Stok Hewan Kurban Idul Adha 2026 Surplus 891 Ribu Ekor

        Meski begitu, tantangan seperti irigasi karena sebagian besar lahan pertanian masih bergantung pada curah hujan masih dihadapi para petani. Maka dari itu, ia berharap pemerintah bisa membantu pembangunan sumur bor agar risiko gagal panen dapat ditekan.

        “Karena di sini, wilayah saya ini kan kalau kadang tidak ada hujan, sudah gagal yang panen kedua. Itu petani rugi sangat besar, karena jagungnya tidak bisa jadi,” ungkapnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Azka Elfriza
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Bagikan Artikel: