Kredit Foto: Azka Elfriza
Pelemahan nilai tukar rupiah dinilai berpotensi menekan industri pembiayaan kendaraan atau multifinance, terutama melalui kenaikan harga kendaraan yang memiliki komponen impor.
Dikhawatirkan, kondisi tersebut bisa meningkatkan risiko kredit bermasalah atau non-performing financing (NPF) di sektor pembiayaan. Seperti yang diketahui, nilai tukar rupiah sempat ambruk ke level Rp17.600 per dolar AS.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM, dan LJK Lainnya OJK, Agusman, mengatakan pelemahan rupiah dapat memengaruhi permintaan pembiayaan kendaraan di tengah potensi kenaikan harga jual kendaraan.
“Pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi memengaruhi permintaan pembiayaan kendaraan pada perusahaan pembiayaan, terutama melalui penyesuaian harga kendaraan yang memiliki komponen impor,” ujar Agusman dalam lembar jawaban tertulis, dikutip pada Minggu (17/5/2026).
Baca Juga: Heboh Rupiah Tembus Rp17.600, Prabowo Bereaksi Santai: Indonesia Masih Oke
Ia menilai, tekanan kurs bisa berdampak pada profil risiko perusahaan pembiayaan jika mempengaruhi kemampuan bayar debitur. Maka dari itu, industri perlu antisipasi melalui penguatan mitigasi risiko dan pemantauan kualitas pembiayaan.
“Pelemahan rupiah juga dapat berdampak pada profil risiko perusahaan pembiayaan, terutama apabila memengaruhi kemampuan bayar debitur, sehingga perlu diantisipasi antara lain melalui penguatan monitoring dan mitigasi risiko,” katanya.
Ke depannya, ia menilai perusahaan multifinance perlu memperkuat manajemen risiko dan menjaga prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan pembiayaan di tengah ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi nilai tukar.
Selain itu, perusahaan juga didorong untuk menyesuaikan strategi bisnis secara adaptif agar pertumbuhan pembiayaan dan kualitas portofolio bisa seimbang.
Baca Juga: OJK Bongkar Fakta: Anak Muda Jadi Penyumbang Terbesar Kredit Macet Pinjol
“Dalam menyikapi hal tersebut, perusahaan pembiayaan perlu memperkuat manajemen risiko, menjaga prinsip kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan, serta menyesuaikan strategi bisnis secara adaptif agar tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas pembiayaan,” ujar Agusman.
Lebih lanjut, OJK melihat perusahaan pembiayaan berpotensi menjadi lebih selektif dalam menyalurkan kredit kendaraan untuk menjaga kualitas aset dan portofolio pembiayaan di tengah tekanan pelemahan rupiah.
“Sejalan dengan hal tersebut, perusahaan pembiayaan cenderung akan lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan guna menjaga kualitas portofolio,” katanya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: