Rupiah Dibuka Melemah Rp17.630, Jatuh ke Level Terendah Sepanjang Sejarah
Kredit Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) jatuh ke level terendah sepanjang masa seiring dengan kenaikan harga minyak dan dibukanya kembali pasar lokal setelah libur dua hari.
Mengutip Bloomberg mata uang Garuda turun 0,9% menjadi Rp17.630 per dolar AS pada Senin (18/5/2026). Rupiah bahkan telah turun lebih dari 5% tahun ini.
Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah masih bergerak dalam rentang lebar pada perdagangan pekan depan. Ia memperkirakan kurs berada di area Rp17.420 hingga Rp17.650 per dolar AS.
Menurut Ibrahim, pelaku pasar global masih dibayangi ketidakpastian setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait situasi negosiasi dengan Iran yang disebut berada dalam kondisi kritis. Pernyataan tersebut kembali memunculkan kekhawatiran mengenai potensi gangguan di Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia.
“Perang dengan Iran mulai berdampak pada perekonomian AS karena harga minyak yang lebih tinggi menyebabkan harga bahan bakar menjadi lebih mahal, dan para ekonom memperkirakan melihat dampak putaran kedua dalam beberapa bulan mendatang,” ujar Ibrahim kepada wartawan.
Selain isu Timur Tengah, perhatian investor juga tertuju pada pertemuan antara Donald Trump dan Xi Jinping di Beijing pada 14–15 Mei 2026. Agenda tersebut dipandang penting karena dapat memengaruhi arah hubungan dagang dua negara ekonomi terbesar dunia sekaligus menentukan sentimen terhadap aset negara berkembang, termasuk Indonesia.
Baca Juga: Heboh Rupiah Tembus Rp17.600, Prabowo Bereaksi Santai: Indonesia Masih Oke
Baca Juga: DPR Bela Prabowo soal Rupiah Melemah: Yang Terpengaruh Orang Kaya
Di tengah tekanan eksternal tersebut, Bank Indonesia memastikan akan terus menjaga stabilitas pasar keuangan domestik. Meski aktivitas perdagangan sempat terpotong libur panjang, bank sentral disebut tetap aktif melakukan intervensi di pasar offshore.
“BI juga akan masuk secara agresif di pasar domestik sejak pembukaan perdagangan 18 Mei 2026. Intervensi dilakukan melalui pasar valas spot, DNDF, serta pembelian SBN (Surat Berharga Negara) di pasar sekunder,” tambahnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: