Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Analis Sebut Rupiah Dibuka Anjlok Karena Sentimen Pernyataan Prabowo

        Analis Sebut Rupiah Dibuka Anjlok Karena Sentimen Pernyataan Prabowo Kredit Foto: Antara/Rivan Awal Lingga
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali dibuka melemah pada perdagangan Senin (18/5/2026). 

        Berdasarkan data perdagangan, rupiah dibuka di level Rp 17.662 per dolar AS atau melemah 65,50 poin setara 0,37% dibandingkan penutupan Jumat (15/5/2026) yang berada di posisi Rp 17.597 per dolar AS.

        Sementara itu, pergerakan mata uang Asia terhadap dolar AS bergerak beragam pada perdagangan hari ini. Yen Jepang menjadi salah satu mata uang yang menguat terhadap dolar AS dengan kenaikan 0,12%.

        Di sisi lain, won Korea Selatan justru melemah 0,49% terhadap dolar AS. Pelemahan juga terjadi pada dolar Hong Kong yang turun tipis 0,01% terhadap dolar AS.

        Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebut pelemahan mata uang Garuda dipicu oleh pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai menganggap enteng penguatan dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah.

        Alih-alih menenangkan pasar, analogi presiden yang menyebut pelemahan rupiah tidak berdampak pada 'orang kampung' justru dinilai berakibat fatal bagi sentimen pelaku ekonomi.

        Menurut Ibrahim pernyataan tersebut menangkap kesan bahwa pemerintah kurang sensitif terhadap tekanan makroekonomi yang sedang terjadi. Di saat bersamaan, fluktuasi nilai tukar justru diperparah oleh dinamika internal dan eksternal yang kompleks.

        "Pernyataan dari Presiden Prabowo ini juga berakibat fatal terhadap pelemahan mata uang rupiah," kata Ibrahim kepada wartawan, Senin (18/5/2026).

        Pelemahan rupiah saat ini, lanjut Ibrahim, terjadi karena ada sejumlah faktor fundamental yang secara simultan menekan posisi rupiah. Pertama lonjakan Harga Minyak Mentah: Kenaikan harga minyak dunia memperberat beban fiskal akibat tingginya volume impor minyak Indonesia yang mencapai 1,5 juta barel per hari.

        Baca Juga: Rupiah Dibuka Melemah Rp17.630, Jatuh ke Level Terendah Sepanjang Sejarah

        Baca Juga: Rupiah Melemah, Multifinance Waspadai Kredit Macet

        Kedua siklus repatriasi dividen ke luar negeri oleh perusahaan asing turut memicu tingginya permintaan terhadap valuta asing (valas) serta banyak masyarakat dan investor yang mulai mengalihkan aset mereka dari tabungan rupiah ke mata uang asing untuk mengamankan nilai kekayaan mereka.

        "Ini membuat apa? Membuat rupiah terus mengalami pelemahan ditambah dengan olok-olok dari Presiden Prabowo sendiri yang mengatakan bahwa pelemahan mata uang rupiah ini tidak berdampak terhadap masyarakat di kampung, ya karena di kampung ini tidak mengenal yang namanya dolar," kata Ibrahim.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Cita Auliana
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: