Pasar Keuangan RI Tertekan! IHSG Anjlok 3,46%, Rupiah Keok Sentuh Rp17.700 per Dolar AS
Kredit Foto: Didimax
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah sama-sama berada di bawah tekanan pada perdagangan Selasa (19/5/2026). IHSG ditutup anjlok 3,46% ke level 6.370,68, sementara rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan menyentuh level Rp17.710 per dolar AS di pasar spot.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG bergerak di zona merah sepanjang sesi perdagangan. Indeks dibuka di level 6.599,21, sempat menyentuh posisi tertinggi harian di 6.635,13, namun tekanan jual mendorong indeks turun hingga menyentuh level terendah 6.323,26 sebelum ditutup di posisi 6.370,68.
Baca Juga: IHSG Ambles 3,46%, Kapitalisasi Pasar Rp430 Triliun Menguap dalam Sehari
Baca Juga: Rupiah Diproyeksi Bergerak Kisaran Rp17.600-Rp17.700, Pasar Antisipasi Kenaikan Suku Bunga BI
Aksi jual juga mendominasi mayoritas saham di BEI. Sebanyak 647 saham tercatat melemah, sementara 117 saham menguat dan 195 saham tidak bergerak.
Nilai transaksi perdagangan mencapai Rp25,11 triliun dengan volume 42,78 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 2,76 juta kali.
Di pasar mata uang, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp17.705 pada perdagangan Selasa (19/5/2026). Mata uang Garuda melemah 38 poin dari penutupan sebelumnya di level Rp17.680 per USD.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menuturkan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai menguji ketahanan harga pangan nasional.
Ketergantungan tinggi terhadap impor pangan membuat tekanan kurs berpotensi cepat merambat ke harga makanan yang dikonsumsi masyarakat seperti mi instan, roti, tahu-tempe, susu, hingga makanan olahan lainnya pada semester II/2026.
Baca Juga: Rupiah Melemah Hingga Rp17.710 per Dolar AS Pagi Ini
Baca Juga: Rupiah Ditutup Loyo ke Rp17.705, Biaya Impor Gandum dan Kedelai Diproyeksi Membengkak
"Ketergantungan impor Indonesia terhadap sejumlah komoditas pangan masih sangat tinggi. Gandum sepenuhnya impor, kedelai sekitar 90% masih dipenuhi dari impor. Selain itu, bawang putih 95% impor, gula sekitar 60%, serta daging sapi dan kerbau sekitar 54%," ungkap dia kepada wartawan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: