Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        'Orang Desa Tidak Pakai Dolar' Dinilai Jadi Komunikasi Politik Presiden untuk Menenangkan Masyarakat

        'Orang Desa Tidak Pakai Dolar' Dinilai Jadi Komunikasi Politik Presiden untuk Menenangkan Masyarakat Kredit Foto: YouTube Sekretariat Presiden
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut “orang desa tidak pakai dollar” dinilai tidak perlu diperdebatkan secara berlebihan. 

        Menurut pengamat kebijakan publik Muhammad Gumarang, pernyataan tersebut merupakan bentuk komunikasi politik untuk menenangkan masyarakat di tengah sorotan terhadap pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

        “Pernyataan Presiden Prabowo itu tidak usah dipermasalahkan atau diambil hati karena sebuah sikap politis yang bermakna pelipur lara pada saat berhadapan langsung dengan rakyatnya,” kata Gumarang.

        Ia menjelaskan pelemahan rupiah hingga menyentuh kisaran Rp17.600 per dolar AS tetap memiliki dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat, termasuk di desa. Sebab, kenaikan nilai dolar berpengaruh terhadap harga barang impor, biaya produksi, hingga distribusi kebutuhan pokok yang pada akhirnya memicu kenaikan harga di tingkat masyarakat.

        Menurut Gumarang, Indonesia masih memiliki ketergantungan besar terhadap impor barang strategis seperti minyak dan gas, kedelai, serta gandum. 

        Selain itu, banyak perusahaan swasta maupun BUMN juga memiliki kewajiban pembayaran utang luar negeri dalam bentuk dolar sehingga biaya produksi dan operasional ikut meningkat ketika rupiah melemah.

        “Efek domino dari menguatnya dolar membuat biaya produksi dan distribusi naik, mulai dari pupuk, BBM alat pertanian, hingga tarif angkutan yang dipakai masyarakat desa maupun kota,” ujarnya.

        Ia mengatakan inflasi Indonesia saat ini memang masih berada pada batas normal sekitar 2,42 persen. Namun, tekanan terhadap rupiah tetap perlu diwaspadai karena kondisi geopolitik global yang belum stabil, terutama konflik Amerika Serikat dan Iran yang memicu kenaikan harga minyak dunia.

        Gumarang juga menyoroti penjelasan Bank Indonesia yang menyebut rupiah masih stabil karena volatilitas pergerakannya dinilai tidak terlalu tinggi dalam 20 hari terakhir. 

        Menurutnya, pendekatan tersebut terlalu sederhana karena tidak melihat tren pelemahan rupiah secara keseluruhan terhadap berbagai mata uang asing.

        “BI tidak selayaknya memandang rupiah stabil hanya dari sisi volatilitas, padahal tren rupiah terus melemah dan sudah berada di level Rp17.700 per dollar AS,” kata Gumarang.

        Baca Juga: Rupiah dan Yen Jepang Keok Lawan Dolar AS

        Ia menilai pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan internal. Dari sisi eksternal, ketidakpastian perang AS-Iran dan lonjakan harga minyak dunia menjadi tekanan besar, sedangkan dari sisi internal persoalan defisit fiskal, tingginya impor, serta utang luar negeri pemerintah dan korporasi ikut memperburuk kondisi nilai tukar.

        Selain itu, Gumarang menyebut sentimen pasar juga berperan besar terhadap pergerakan rupiah. Ia mengatakan persepsi pasar terhadap stabilitas politik, kepastian hukum, hingga kondisi demokrasi dan HAM dapat memengaruhi tingkat kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia.

        “Masalah rupiah bukan hanya soal teknis ekonomi, tetapi juga dipengaruhi suasana kebatinan pasar terhadap kondisi politik, hukum, dan demokrasi di dalam negeri,” ucap Gumarang.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Amry Nur Hidayat

        Bagikan Artikel: