Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah dan Yen Jepang Keok Lawan Dolar AS

Rupiah dan Yen Jepang Keok Lawan Dolar AS Kredit Foto: Wafiyyah Amalyris K
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (19/5/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,22% ke level Rp17.705 per dolar AS.

Rupiah melemah di tengah penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang Asia. Sentimen pasar global masih mendorong investor memburu aset berbasis dolar AS seiring ketidakpastian ekonomi global dan ekspektasi suku bunga tinggi AS yang bertahan lebih lama.

Mayoritas mata uang Asia juga bergerak di zona merah pada perdagangan hari ini. Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan setelah USD/KRW melonjak 1,06%, yang menandakan nilai won turun signifikan terhadap dolar AS.

Selain itu, yen Jepang turut melemah sekitar 0,18% terhadap dolar AS. Sementara Dolar Australia justru mencatat penguatan sekitar 0,70% terhadap dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, sebelumnya menuturkan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai menguji ketahanan harga pangan nasional.

Ketergantungan tinggi terhadap impor pangan membuat tekanan kurs berpotensi cepat merambat ke harga makanan yang dikonsumsi masyarakat seperti mi instan, roti, tahu-tempe, susu, hingga makanan olahan lainnya pada semester II/2026.

"Ketergantungan impor Indonesia terhadap sejumlah komoditas pangan masih sangat tinggi. Gandum sepenuhnya impor, kedelai sekitar 90% masih dipenuhi dari impor. Selain itu, bawang putih 95% impor, gula sekitar 60%, serta daging sapi dan kerbau sekitar 54%," ungkap dia kepada wartawan.

Baca Juga: Pasar Keuangan RI Tertekan! IHSG Anjlok 3,46%, Rupiah Keok Sentuh Rp17.700 per Dolar AS

Baca Juga: Rupiah Ditutup Loyo ke Rp17.705, Biaya Impor Gandum dan Kedelai Diproyeksi Membengkak

Kondisi pelemahan rupiah ini, kata Ibrahim, otomatis meningkatkan biaya impor karena mayoritas transaksi dilakukan menggunakan dolar AS. Pada akhirnya, peningkatan biaya impor ini berisiko menimbulkan kenaikan harga pangan di dalam negeri.

"Kondisi tersebut memunculkan fenomena imported inflation atau inflasi impor, yakni tekanan inflasi yang berasal dari pelemahan nilai tukar dan tingginya ketergantungan terhadap barang impor," ungkap dia.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Cita Auliana
Editor: Dwi Aditya Putra