Indonesia Kejar Ketertinggalan AI, Semikonduktor Jadi Senjata Utama
Kredit Foto: Komdigi
Pemerintah mulai memperkuat posisi Indonesia dalam persaingan industri kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) global melalui kerja sama semikonduktor dengan berbagai negara dan perusahaan teknologi internasional.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, mengatakan Indonesia tidak ingin hanya menjadi pasar teknologi, tetapi juga mampu melahirkan talenta dan model AI buatan anak bangsa.
“Kita tidak ingin hanya menjadi pasar, tetapi kita ingin talenta digital Indonesia mampu menguasai dasar-dasar teknologi AI dan mengembangkan model AI karya anak bangsa,” ujar Nezar di Jakarta Pusat, Selasa (19/5/2026).
Menurut dia, strategi tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mengejar ketertinggalan Indonesia dalam kompetisi global pengembangan AI yang berkembang sangat cepat.
Nezar mengungkapkan pemerintah telah menjalin kerja sama dengan sejumlah industri semikonduktor di Eropa, Jepang, hingga perusahaan desain chip Arm asal Inggris. Isu penguatan industri semikonduktor juga disebut menjadi salah satu agenda strategis dalam kunjungan Presiden ke berbagai negara.
“Pemerintah sudah bekerja sama dengan sejumlah industri semikonduktor di Eropa, Jepang, termasuk Arm di Inggris. Dalam kunjungan Presiden ke berbagai negara, isu semikonduktor juga menjadi pembahasan strategis,” katanya.
Baca Juga: Nezar Patria: Indonesia Bangun Industri AI tanpa Dominasi Negara
Baca Juga: Wamen Nezar Peringatkan Risiko AI, Daya Kritis Bisa Menurun
Ia menilai Indonesia selama ini belum masuk dalam rantai pasok utama industri AI global. Karena itu, pemerintah mulai membangun ekosistem AI nasional melalui pengembangan industri dan peningkatan kualitas sumber daya manusia digital secara bersamaan.
Menurut Nezar, pengembangan AI tidak bisa dipisahkan dari industri semikonduktor karena chip, GPU, dan pusat data menjadi fondasi utama teknologi komputasi modern.
“Kalau kita bicara industri AI, kita bicara bagaimana membangun ekosistem industrinya dan bagaimana menyiapkan talenta digitalnya. Dua hal ini tidak bisa dipisahkan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti potensi Indonesia yang memiliki sumber daya alam strategis seperti nikel, cobalt, timah, pasir silika, dan zinc yang dibutuhkan dalam industri chip dan semikonduktor. Namun, ia mengingatkan sebagian besar komoditas tersebut masih diekspor dalam bentuk bahan mentah.
“Kita punya cukup banyak sumber daya alam yang penting untuk industri semikonduktor. Tetapi sayangnya sebagian besar masih dijual sebagai bahan mentah. Karena itu hilirisasi menjadi sangat penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi,” jelas Nezar.
Di tengah ketatnya persaingan AI antara Amerika Serikat dan Tiongkok, Nezar menilai penguasaan semikonduktor dan kapasitas komputasi akan menjadi faktor utama penentu daya saing negara di masa depan.
“Chips akan menjadi faktor penentu apakah sebuah bangsa mampu berkompetisi dalam pertarungan teknologi maju seperti artificial intelligence,” tegasnya.
Baca Juga: Perluas Pangsa Pasar, Perusahaan AI Asal Indonesia Ekspansi ke Amerika Serikat
Baca Juga: IMF: AI Bisa Picu Serangan Siber yang Guncang Sistem Keuangan Global
Selain itu, pemerintah juga tengah menyusun Peta Jalan AI Nasional sebagai arah strategis pengembangan AI menuju visi Indonesia Digital 2045.
“Peta jalan AI nasional ini bukan hanya dokumen birokratis, tetapi kontrak sosial kita untuk teknologi masa depan Indonesia,” pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri