Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Produksi Susut Tersengat Cuaca Ekstrem, Kementan Garansi Stok Bawang Merah Aman

        Produksi Susut Tersengat Cuaca Ekstrem, Kementan Garansi Stok Bawang Merah Aman Kredit Foto: Antara/Rahmad
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Menjelang momentum perayaan Iduladha 1447 Hijriah, anomali cuaca ekstrem sempat membayangi sentra-sentra produksi hortikultura. Namun, Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan) meredam kekhawatiran pasar dengan memastikan rantai pasok dan ketersediaan bawang merah nasional tetap aman terkendali.

        Bagi kalangan investor dan pelaku usaha ritel, fluktuasi harga pangan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) menjadi indikator krusial. Kementan mencatat, meski sejumlah daerah mengalami penurunan produktivitas akibat cuaca, fundamental neraca bawang merah Indonesia masih mencatatkan surplus.

        Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Muhammad Taufiq Ratule, memaparkan kapasitas produksi bawang merah nasional masih jauh di atas rata-rata kebutuhan domestik. Secara akumulatif, produksi nasional mencapai 2 juta ton kondebasah atau setara 1,3 juta ton rogol kering panen per tahun. Angka tersebut dinilai mampu menutup proyeksi konsumsi nasional yang berada di kisaran 1,26 juta ton per tahun.

        “Secara kalkulasi, produksi nasional kita masih surplus dan sangat cukup, bahkan keran ekspor terus berjalan. Menghadapi Iduladha, kami memperkuat sinergi dengan petani champion, pemda, serta asosiasi usaha untuk mengunci stabilitas pasokan dan kelancaran distribusi di lapangan,” ujar Taufiq dalam keterangan resmi, Kamis (21/5/2026).

        Periode tanam Maret hingga Mei tahun ini juga diwarnai tantangan iklim yang cukup berat. Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hortikultura Kementan, Muhammad Agung Sunusi, mengakui adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) seperti ulat grayak dan moler di sejumlah sentra produksi akibat cuaca ekstrem.

        Baca Juga: Kementan Sebut Prabowo Minta Peningkatan Produksi Komoditas Bawang Putih, Begini Upayanya

        Baca Juga: Sudaryono Ungkap Kendala Program Cetak Sawah Kementan pada 2026

        Kendati demikian, mitigasi logistik disebut berjalan efektif. Arus distribusi dari sentra produksi utama seperti Nganjuk, Enrekang, Pati, Brebes, Temanggung, hingga Garut dilaporkan tidak mengalami bottleneck atau hambatan distribusi.

        “Distribusi tetap kami kawal ketat bersama para pelaku usaha. Kami memproyeksikan tren produksi akan kembali menanjak pada Juni 2026 seiring masuknya momentum panen raya di sentra-sentra utama,” ujar Agung.

        Kelancaran logistik tersebut juga diamini para pelaku usaha di tingkat hulu. Kasmidi, petani champion asal Enrekang, menyebut wilayahnya masih terus melakukan panen dan rutin menyuplai pasar Kalimantan hingga tiga kali sepekan.

        Hal senada disampaikan Amri Ismail, petani champion asal Solok, yang bersiap menyambut panen raya pertengahan Juni guna mengamankan pasokan di seluruh Pulau Sumatra.

        Dari sisi komersial, situasi pasokan saat ini dinilai memberikan sinyal pergerakan harga yang menarik bagi pelaku usaha. Ketua Umum Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI), Dian Alex Chandra, mengonfirmasi cuaca ekstrem memangkas produksi di sejumlah wilayah hingga 30%–40%. Namun, ia memastikan ketersediaan barang di pasar tetap terjaga.

        Menurunnya volume panen di tengah lonjakan demand atau permintaan menjelang Iduladha diperkirakan akan mendorong kenaikan harga pasar.

        “Tren harga kemungkinan masih akan bertahan di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) hingga Iduladha karena tingginya permintaan pasar. Namun, kami memproyeksikan kondisi pasar akan kembali pada titik ekuilibrium atau normal saat panen dari berbagai sentra produksi mulai masuk,” ujar Alex.

        Sebagai langkah preventif, Kementan berkomitmen terus menerjunkan tim pemantau ke berbagai daerah. Langkah tersebut dilakukan guna memberikan kepastian bagi pasar, mencegah praktik spekulasi harga, serta menjaga iklim bisnis agribisnis tetap kondusif selama periode Iduladha.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Muhammad Farhan Shatry
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: