Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Amartha Bongkar Tantangan UMKM: Modal Saja Ternyata Tak Cukup!

        Amartha Bongkar Tantangan UMKM: Modal Saja Ternyata Tak Cukup! Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) menegaskan pentingnya kesehatan finansial sebagai fondasi baru dalam mendorong pertumbuhan ekonomi akar rumput yang inklusif dan berkelanjutan melalui The 2026 Asia Grassroots Forum bertema “Enabling Growth, Elevating Financial Health” yang akan berlangsung pada 3–4 Juni 2026 di Shangri-La Jakarta.

        Dalam forum tersebut, para pemangku kepentingan lintas sektor akan membahas masa depan ekonomi akar rumput di Indonesia dan Asia, mulai dari penguatan ekosistem UMKM melalui pembiayaan inklusif hingga pemanfaatan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI).

        Secara global, UMKM menyumbang lebih dari 90% entitas bisnis, sekitar 70% lapangan kerja, dan 50% produk domestik bruto (PDB). Di Indonesia, lebih dari 65,5 juta UMKM pada 2025 berkontribusi lebih dari 60% terhadap PDB nasional dan menyerap sekitar 97% tenaga kerja.

        Amartha menilai perluasan akses keuangan perlu bergerak lebih jauh, tidak hanya menyediakan pembiayaan, tetapi juga membantu masyarakat akar rumput mengelola arus kas.

        Adapun sejumlah tantangan struktural masih dihadapi pelaku UMKM, seperti keterbatasan modal, tekanan biaya hidup, pendapatan yang tidak stabil, hingga kemampuan mengelola keuangan rumah tangga dan usaha.

        Direktur Ekonomi Digital CELIOS, Nailul Huda, mengatakan permodalan masih menjadi tantangan utama bagi UMKM di Indonesia.

        “Bagi banyak UMKM, termasuk perempuan di akar rumput, akses terhadap permodalan masih menjadi tantangan utama. Fintech, termasuk peer-to-peer lending (P2P lending), dapat menjembatani kebutuhan ini dengan cara yang lebih cepat dan tepat,” ujarnya di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

        Ia menilai pembiayaan digital harus diarahkan untuk kegiatan produktif dan didukung tata kelola yang baik agar UMKM dapat bertumbuh dengan memperluas pasar serta menjaga keberlanjutan usaha.

        Associate Professor Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Poppy Ismalina, menilai pemberdayaan ekonomi perempuan tidak cukup hanya melalui akses modal.

        “Pemberdayaan ekonomi perempuan bukan hanya tentang memberikan akses permodalan, tetapi juga memastikan perempuan berada dalam posisi pengambilan keputusan, memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan terhadap sistem keuangan,” ujarnya.

        Baca Juga: Menteri Maman Wajibkan Pelaku Usaha Onboarding ke SAPA UMKM

        Baca Juga: Pelaku Usaha Kini Lebih Mudah Akses Modal dan Pelatihan lewat SAPA UMKM

        Pada kesempatan yang sama, Chief Compliance and Sustainability Officer Amartha, Aria Widyanto, mengatakan keberhasilan inklusi keuangan kini tidak lagi hanya diukur dari jumlah masyarakat yang mampu mengakses produk keuangan.

        “Keberhasilan inklusi keuangan tidak lagi hanya diukur dari jumlah masyarakat yang mengakses produk keuangan, tetapi dari kemampuan mereka bertahan dan mencapai tujuan kesejahteraan di tengah dinamika ekonomi,” katanya.

        Sekadar informasi, selama 16 tahun Amartha mencatat 94% peminjam mengalami peningkatan pendapatan dan sebanyak 90.000 peminjam berhasil merekrut karyawan pertama mereka setelah memperoleh akses pembiayaan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Azka Elfriza
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: