Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Krisis Gizi Anak Jadi Alarm, Kolaborasi Lintas Sektor Dinilai Krusial

Krisis Gizi Anak Jadi Alarm, Kolaborasi Lintas Sektor Dinilai Krusial Kredit Foto: Dok. Pemprov DKI Jakarta
Warta Ekonomi, Surabaya -

Masalah gizi anak masih menjadi tantangan besar dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Di tengah masih tingginya angka kekurangan gizi, pemerintah, akademisi, industri, hingga media dinilai perlu memperkuat kolaborasi untuk memperluas edukasi gizi dan meningkatkan kualitas kesehatan anak sejak usia dini.

Isu tersebut mengemuka dalam Media Gathering “18 Tahun JAPFA for Kids Kolaborasi Untuk Generasi Penerus Bangsa” di Surabaya. Sejumlah pihak menilai kualitas SDM Indonesia ke depan tidak hanya ditentukan oleh akses pendidikan, tetapi juga kecukupan gizi yang memengaruhi pertumbuhan fisik, kemampuan belajar, dan produktivitas jangka panjang.

Data yang dipaparkan menunjukkan tantangan edukasi gizi masih cukup besar. Hampir 50% ibu disebut memiliki pengetahuan gizi yang rendah. Sementara 47,6% berada pada kategori cukup dan hanya 2,4% yang memiliki pemahaman baik terkait gizi.

Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan (PKGK) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia mencatat pola konsumsi anak Indonesia masih didominasi karbohidrat dengan asupan protein hewani yang relatif rendah.

Menurut Prof. drg. Sandra Fikawati, MPH, kondisi tersebut dipengaruhi keterbatasan ekonomi keluarga, harga protein hewani yang dinilai mahal, hingga belum meratanya distribusi pangan bergizi.

“Di beberapa daerah, konsumsi protein hewani anak masih jauh di bawah kebutuhan harian. Padahal masa balita dan usia dini merupakan periode penting pembentukan jaringan tubuh dan perkembangan otak,” ujar Sandra.

Sandra mengungkapkan lebih dari 80% anak dan remaja Indonesia mengalami defisit protein hewani. Data situasi konsumsi pangan menunjukkan masyarakat Indonesia lebih banyak mengonsumsi protein nabati sebesar 65,7%, sedangkan protein hewani baru mencapai 34,3%.

Ia menilai kondisi tersebut dapat memicu berbagai dampak kesehatan, mulai dari gangguan pertumbuhan fisik, stunting, penurunan perkembangan otak, lemahnya daya tahan tubuh, hingga menurunkan produktivitas saat memasuki usia kerja.

“Di sinilah peran kita sangat penting bagi anak-anak agar tetap sehat untuk mengedukasi sejak dini supaya kualitas SDM Indonesia terus meningkat,” ujarnya.

Dari sisi industri, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk mencatat persoalan gizi juga terjadi pada usia sekolah dasar. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, sebanyak 11,9% anak usia 5-12 tahun mengalami gizi lebih, 7,8% obesitas, serta 11% berada pada kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U).

Temuan tim Social Investment JAPFA di sembilan lokasi program JAPFA for Kids pada 2025 juga menunjukkan sebanyak 1.034 dari 15.498 siswa atau sekitar 6,7% mengalami gizi kurang dan gizi buruk.

Head of Social Investment JAPFA Retno Artsanti mengatakan persoalan gizi membutuhkan pendekatan jangka panjang dan keterlibatan lintas sektor.

“Dalam implementasinya, kami menjalankan berbagai strategi terintegrasi, mulai dari pemberian asupan protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan bagi siswa dengan kondisi ketidakseimbangan asupan nutrisi dan melakukan pemantauan rutin berat dan tinggi badan siswa melalui aplikasi digital,” kata Retno.

Selain pemerintah dan dunia usaha, media juga dinilai memiliki peran strategis dalam memperluas edukasi publik terkait gizi nasional.

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur Lutfil Hakim mengatakan program peningkatan gizi bukan sekadar penyediaan makanan, tetapi juga bagian dari investasi pembangunan SDM dan penggerak ekonomi.

“Yang dibutuhkan saat ini bukan sekadar skill menulis dan mengkritik, tapi harus paham aturan, regulasi, maupun mekanismenya,” ujar Lutfil Hakim.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Mochamad Ali Topan
Editor: Annisa Nurfitri