Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        AS Tutup Pintu bagi Warga Afrika, WHO Tambah Dana untuk Penanganan Ebola

        AS Tutup Pintu bagi Warga Afrika, WHO Tambah Dana untuk Penanganan Ebola Kredit Foto: AP Photo/ Shiraaz Mohamed
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Amerika Serikat melarang sementara warga asing dari tiga negara Afrika, yaitu Kongo, Uganda, dan Sudan Selatan yang pernah berada di wilayah tersebut dalam 21 hari terakhir untuk masuk ke wilayahnya. 

        Keputusan ini muncul di tengah pernyataan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang justru menekankan bahwa situasi ini bukanlah darurat pandemi, melainkan "Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional" (PHEIC).

        Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) Amerika Serikat resmi mengeluarkan instruksi penangguhan masuk bagi warga negara asing yang dalam 21 hari sebelum kedatangannya berada di Republik Demokratik Kongo, Uganda, atau Sudan Selatan. 

        Namun, Amerika tidak sepenuhnya menutup pintu. Warga negara AS dan pemegang kartu hijau masih diizinkan masuk, meskipun harus melewati pemeriksaan yang jauh lebih ketat. 

        Para pemegang kartu hijau pun diarahkan khusus ke Bandara Internasional Washington-Dulles, seolah-olah menjadi "tamu istimewa" yang diawasi dari jarak dekat.

        Langkah Washington ini seperti respons cepat terhadap guncangan dari Afrika. Pekan lalu, WHO telah menyatakan wabah Ebola di Kongo dan Uganda sebagai status darurat dan ancaman bagi negara lain. 

        Data dari otoritas Kongo mencatat 131 kematian akibat virus tersebut. Wabah ini terasa menghantui karena sebelumnya, wabah Ebola di Kongo pernah dinyatakan berakhir pada Oktober 2025.

        Di tengah ketegangan ini, Uganda bergerak cepat di dalam negeri. Kementerian Kesehatan Uganda menetapkan larangan menjabat tangan dan berbagai praktik menyapa lain yang berpotensi menularkan penyakit, menyusul terkonfirmasinya dua kasus Ebola.

        Satu hari sebelum AS mengumumkan larangan, tepatnya pada Rabu (20/5), WHO menyampaikan pesan yang tak kalah penting namun berbeda nada. Risiko epidemi Ebola disebut "tinggi di tingkat nasional dan regional, dan rendah di tingkat global." Situasi ini, tegas WHO, bukanlah darurat pandemi.

        Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menjelaskan dalam konferensi pers bahwa Komite Darurat WHO telah menggelar pertemuan pada Selasa (19/5) dan menyetujui penilaian sebelumnya, yaitu status PHEIC tetap berlaku, tetapi bukan pandemi. 

        Sejauh ini, kata Tedros, 51 kasus telah dikonfirmasi di provinsi utara Ituri dan Kivu Utara di RD Kongo. Namun skala epidemi di Kongo jauh lebih besar: terdapat hampir 600 kasus suspek dan 139 kematian suspek. 

        Sementara itu, Uganda telah memberitahukan WHO mengenai dua kasus terkonfirmasi di Ibu Kota Kampala, termasuk satu kematian di antara dua orang yang melakukan perjalanan dari RD Kongo ke Uganda. Bahkan seorang warga negara AS yang bekerja di RD Kongo juga terkonfirmasi positif.

        Baca Juga: Dokter AS Terinfeksi Ebola Dirujuk ke Isolasi Rumah Sakit Paling Canggih di Berlin

        WHO tak tinggal diam. Tedros menyatakan bahwa sangat mendesak untuk bertindak segera guna mencegah lebih banyak kematian dan memobilisasi respons internasional yang efektif. Organisasi tersebut telah mengerahkan personel, pasokan, peralatan, dan dana untuk mendukung otoritas nasional.

        Sebagai bentuk keseriusan, Tedros menyetujui tambahan dana sebesar 3,4 juta dolar AS dari Dana Kontingensi untuk Keadaan Darurat, sehingga total dana yang disiapkan menjadi 3,9 juta dolar AS.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Amry Nur Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: