Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Mengenal Rudal Oreshnik, Senjata Hipersonik Rusia yang Tak Bisa Dicegat Ukraina

        Mengenal Rudal Oreshnik, Senjata Hipersonik Rusia yang Tak Bisa Dicegat Ukraina Kredit Foto: BBC
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Rudal balistik hipersonik Oreshnik milik Rusia kembali menjadi perhatian dunia setelah digunakan dalam serangan besar-besaran ke Ukraina pada Minggu (24/5/2026).

        Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut rudal tersebut digunakan Rusia untuk menyerang wilayah Bila Tserkva di Ukraina tengah.

        Baca Juga: Ternyata Inilah Akar Utama Perang Rusia-Ukraina, Bocor Saat Obrolan Putin dan Xi Jinping

        Oreshnik dikenal sebagai rudal balistik jarak menengah atau Intermediate-Range Ballistic Missile (IRBM) yang memiliki kecepatan ekstrem, yakni lebih dari 10 kali kecepatan suara atau melampaui Mach 10.

        Menurut militer Ukraina, rudal ini dapat melesat hingga sekitar 12.300 kilometer per jam, membuatnya sangat sulit dideteksi dan dicegat sistem pertahanan udara konvensional.

        Oreshnik pertama kali digunakan dalam pertempuran pada 21 November 2024 ketika menghantam kota Dnipro di Ukraina.

        Rudal ini menjadi sorotan karena membawa Multiple Independently Targetable Reentry Vehicles (MIRV), teknologi yang sebelumnya identik dengan senjata nuklir strategis.

        Sistem tersebut memungkinkan satu rudal membawa beberapa hulu ledak yang dapat menyerang target berbeda secara bersamaan.

        Setiap hulu ledak juga dilaporkan membawa submunisi tambahan yang meningkatkan daya rusak serangan.

        Meski disebut sangat sulit dicegat, sejumlah sistem pertahanan rudal modern sebenarnya dirancang untuk menghadapi ancaman seperti ini. Namun tingkat keberhasilannya sangat bergantung pada jarak deteksi, waktu respons, dan kapasitas sistem pertahanan yang digunakan.

        Juru Bicara Pentagon, Sabrina Singh sebelumnya mengidentifikasi Oreshnik sebagai varian dari rudal RS-26 Rubezh milik Rusia.

        Rudal tersebut juga disebut mampu membawa hulu ledak nuklir, sehingga penggunaannya dalam perang Ukraina memicu kekhawatiran internasional terkait potensi eskalasi konflik yang lebih besar.

        Dalam serangan terbaru ke Ukraina, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam penggunaan Oreshnik dan menyebut langkah Rusia sebagai tanda “jalan buntu perang agresi Rusia”.

        Baca Juga: 90 Pekerja Tewas dalam Tragedi Terburuk 17 Tahun di Tambang Batu Bara China

        Penggunaan rudal hipersonik kini menjadi bagian penting persaingan militer global, terutama di tengah perlombaan teknologi senjata antara Rusia, Amerika Serikat, dan China.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: