Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Terhimpit Masalah Ekonomi, Pria Ini Terpaksa Jual Anak Kandungnya Demi Bertahan Hidup di Afghanistan

        Terhimpit Masalah Ekonomi, Pria Ini Terpaksa Jual Anak Kandungnya Demi Bertahan Hidup di Afghanistan Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Tangisan Abdul Rashid Azimi pecah saat menceritakan alasan dirinya rela menjual anak kandung demi menyelamatkan keluarganya dari kelaparan di Afghanistan.

        “Anak-anak saya datang kepada saya mengatakan, ‘Baba, beri kami roti’. Tapi apa yang bisa saya berikan? Di mana pekerjaan itu?” ujar Abdul Rashid Azimi, dikutip Senin (25/5).

        Baca Juga: Rapat Menteri Afghanistan Hanya Lesehan di Karpet: Tanpa Meja Mewah dan Jamuan Fantastis

        Krisis ekonomi dan kelaparan ekstrem yang melanda Provinsi Ghor, Afghanistan, kini memaksa banyak kepala keluarga mengambil keputusan paling tragis dalam hidup mereka: menjual anak sendiri agar anggota keluarga lain bisa bertahan hidup.

        Azimi, ayah dari anak kembar perempuan berusia tujuh tahun, mengaku sudah tidak memiliki pilihan lain setelah terlilit utang dan kehilangan penghasilan.

        “Saya bersedia menjual putri-putri saya,” katanya sambil menangis.

        Menurut Azimi, uang hasil penjualan satu anak setidaknya dapat memberi makan anggota keluarga lainnya selama beberapa tahun.

        “Jika saya menjual satu anak, uangnya bisa menghidupi anak-anak saya yang lain setidaknya untuk empat tahun ke depan,” ungkapnya.

        Suara pilu serupa datang dari Saeed Ahmad yang terpaksa menjual putrinya yang masih berusia lima tahun demi biaya operasi medis darurat.

        “Saya tidak punya uang sama sekali untuk biaya pengobatan. Jadi, saya menjual putri saya kepada seorang kerabat,” tutur Saeed Ahmad.

        Ia menjelaskan anaknya membutuhkan operasi usus buntu dan penanganan kista hati dengan biaya mencapai 200 ribu Afghani.

        Saeed bahkan membuat kesepakatan agar anaknya tidak langsung dibawa pergi setelah transaksi dilakukan.

        “Jika saat itu saya mengambil seluruh uangnya, dia pasti sudah dibawa pergi,” katanya.

        Meski dihantui rasa bersalah, Saeed merasa keputusan itu menjadi satu-satunya jalan agar anaknya tetap hidup.

        “Jika saya punya uang, saya tidak akan pernah mengambil keputusan ini,” ujarnya lirih.

        “Tetapi kemudian saya berpikir, bagaimana jika dia meninggal tanpa operasi? Dengan cara ini setidaknya dia akan hidup.”

        Penderitaan serupa dirasakan banyak keluarga lain di Afghanistan.

        Setiap pagi, warga berkumpul di alun-alun Chaghcharan berharap mendapatkan pekerjaan kasar harian, meski peluang kerja nyaris tidak ada.

        Juma Khan mengaku anak-anaknya sudah tidur dalam keadaan lapar selama tiga malam berturut-turut.

        “Sudah tiga malam anak-anak tidur kelaparan. Istri saya terus menangis, begitu juga anak-anak saya,” katanya.

        Ia bahkan harus meminjam tepung dari tetangga demi mempertahankan hidup keluarganya.

        “Saya hidup dalam ketakutan bahwa anak-anak saya akan mati kelaparan,” ujar Juma Khan.

        Sementara itu, seorang warga lain bernama Rabani mengaku sempat berpikir mengakhiri hidup akibat tekanan ekonomi yang tak tertahankan.

        “Saya mendapatkan telepon yang mengatakan bahwa anak-anak saya belum makan selama dua hari,” katanya dengan suara tersendat.

        “Saya merasa ingin bunuh diri. Tapi kemudian saya berpikir, bagaimana hal itu bisa membantu keluarga saya?”

        Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sekitar tiga perempat populasi Afghanistan kini tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar akibat kemiskinan akut dan pengangguran.

        PBB juga mencatat sekitar 4,7 juta warga Afghanistan berada di ambang kelaparan massal.

        Situasi semakin memburuk setelah bantuan kemanusiaan global dipangkas hingga 70 persen dibandingkan tahun sebelumnya, termasuk dari donor besar seperti Amerika Serikat dan Inggris.

        Di tengah krisis tersebut, pemerintah Taliban menyebut kondisi ekonomi saat ini merupakan warisan dari era perang dan invasi Amerika Serikat selama dua dekade.

        Wakil Juru Bicara Taliban, Hamdullah Fitrat mengatakan pemerintah sedang menyiapkan proyek infrastruktur dan pertambangan untuk membuka lapangan kerja baru.

        Baca Juga: Mengenal Rudal Oreshnik, Senjata Hipersonik Rusia yang Tak Bisa Dicegat Ukraina

        Namun bagi banyak keluarga di Afghanistan hari ini, persoalan terbesar bukan lagi masa depan politik atau pembangunan negara, melainkan bagaimana menemukan sepotong roti agar anak-anak mereka bisa bertahan hidup sampai esok pagi.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: