Kredit Foto: Uswah Hasanah
Koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu terakhir membuat perhatian publik tertuju pada sejumlah analis dan trader yang memberikan warning terkait potensi pelemahan market.
Di tengah derasnya aksi panic selling dan meningkatnya kekhawatiran investor ritel, trader kontrarian Indonesia, Arist MD, mengungkapkan bahwa dirinya telah mendeteksi tanda-tanda kejatuhan struktural pasar modal sejak awal tahun melalui pembacaan data anomali grafik secara objektif, meskipun saat itu konsensus publik masih berada dalam fase euforia optimisme.
"Kami warning 7 Januari itu ketika IHSG di 9.000 tuh kami warning IHSG mau turun ke 6280. Oh, bakal ke situ minimal. Berhasil memprediksi arah kripto, arah emas, arah saham, arah komoditi. Ketika ada suatu pola, biasanya pola itu akan works." (Folknomics, 17 April 2026)
Arist MD menjelaskan bahwa fase paling berbahaya di dalam market justru terjadi ketika mayoritas publik merasa kondisi sedang aman dan tren bullish dianggap akan bertahan selamanya. Hal ini sering kali membuat investor kehilangan sensitivitas terhadap risiko modal dan melupakan pertahanan dasar.
"Orang trading yang pertama harus diajarin itu adalah bertahan bukan nyerang. Mempertahankan duit kita itulah money management. Duit kita ini seperti peluru. Tapi dengan money management kita harus 1 banding 10 atau 1 banding 12,” kata dia.
Lebih lanjut, ia menegaskan keputusannya untuk menghindari indikator konvensional maupun narasi dan berita fundamental ekonomi yang beredar di publik.
Menurut Arist, ilmu-ilmu klasik yang umum diajarkan saat ini sudah usang karena diciptakan puluhan tahun hingga seabad yang lalu. Selain itu, ia menilai narasi berita kerap sengaja dikeluarkan oleh pihak tertentu hanya untuk menggiring investor ritel agar terjebak menjadi exit liquidity di harga pucuk.
"Dow theory itu lahir tahun 1900, Wyckoff 1909, RSI ditemukan 1978, Bollinger Band '83, MACD '79. Jadi ilmu-ilmunya udah ada 100 lebih tahun lalu yang kita pakai sekarang. Apakah masih relevan di market? Kalau memang relevan, enggak 90% orang trader yang sekarang rugi. Saya menjauhi yang namanya ilmu yang umum, kemudian kedua saya akan menjauhi narasi-narasi atau news,” ucap dia.
Sebagai gantinya, Arist MD mengembangkan metode modifikasi kalkulasi rasio indikator teknikal murni melalui ribuan jam riset dan catatan evaluasi (trading notes).
Strategi ini sengaja dirancang untuk mendeteksi area pembalikan arah harga yang krusial (bottom entry) dengan prinsip risk-to-reward ratio yang sangat ketat, mirip dengan filosofi memancing hanya perlu mengorbankan umpan kecil untuk mendapatkan hasil yang besar.
Baca Juga: IHSG Ambles 26%, Sucor Sekuritas Buka Strategi Bertahan di Pasar Bergejolak
Baca Juga: Airlangga Bantah Danantara Jadi Biang Kerok IHSG Anjlok
"Style dari trading kami adalah kita nge-buy yang sudah jatuh di bawah dalam dan ada tanda-tanda dia mau naik, atau nge-sell barang yang lagi naik kencang seperti ini. Tapi kalau Abang entry di sini, tewas. Bagaimana caranya bisa entry di terendah sini? Memang dia tadi ada rasio-rasionya dan rasionya pun kan saya harus edit tadi, itu enggak ada di yang umum,” tambah dia.
"Saya juga ngelihat ada pola bakal terjadi crash. Jadi kalau IHSG dari sini pertama bisa sentuh area 7.000 mungkin nanti ada dead cat bounce dan bisa melanjutkan penurunan ke wilayah 6.200 sampai 6.300. Market tidak selalu bergerak sesuai ekspektasi mayoritas. Kondisi euforia yang terlalu tinggi sering kali menjadi sinyal awal terbentuknya koreksi besar di market,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa di tengah rontoknya indeks bursa domestik, pendekatan kontrarian yang disiplin, defensif terhadap modal, dan terbebas dari intervensi narasi eksternal menjadi kunci utama bagi pelaku pasar untuk tetap bertahan hidup menghadapi tingginya volatilitas pasar global.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: