Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Rupiah Bakal Sentuh Rp18.000 per Dolar AS, Ini Penyebabnya

        Rupiah Bakal Sentuh Rp18.000 per Dolar AS, Ini Penyebabnya Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Ekonom Wijayanto Samirin mengungkapkan ada tiga faktor yang akan membawa nilai tukar rupiah menyentuh level Rp18.000 per dolar AS. 

        Pertama, investor mulai menahan diri untuk masuk ke instrumen surat utang rupiah karena pasar mempertanyakan kemampuan pemerintah menjaga keberlanjutan pembiayaan utang di tengah potensi pelebaran defisit anggaran.

        “Ini yang membuat investor agak menahan diri untuk investasi dalam surat utang rupiah. Sehingga ini menekan rupiah,” ujar Wijayanto kepada Warta Ekonomi, Selasa (26/5/2026).

        Baca Juga: Konflik AS-Iran Bayangi Pasar, Rupiah Ditutup Nyaris Rp17.800 per Dolar AS

        Baca Juga: Pelemahan Rupiah Bikin Resah, Pemerintah Jamin Harga Beras SPHP Tak Naik

        Kedua, lanjut Wijayanto, tren impor yang terus meningkat, sementara pertumbuhan ekspor dinilai belum cukup kuat untuk menjaga keseimbangan eksternal.

        “Banyak pihak was-was bagaimana ketika suatu saat ekspor kita itu tidak bisa menutup impor,” katanya.

        Lalu ketiga, tekanan terhadap rupiah juga dipicu arus keluar investasi portofolio serta investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) yang cenderung stagnan.

        Menurut Wijayanto, kombinasi ketiga faktor tersebut membuat pasar semakin berhati-hati menempatkan dana pada instrumen keuangan domestik.

        “Rupiah akan ke Rp18.000, ya itu sudah pasti. Sekarang kan sudah Rp17.700 sekian,” ujarnya.

        Baca Juga: Rupiah Terpuruk, Nyaris Dekati Level Rp18.000 Jelang Libur Iduladha

        Baca Juga: OJK Warning Pelemahan Rupiah Bisa Tekan Industri Pindar

        Meski demikian, ia meminta publik tidak langsung membandingkan kondisi pelemahan rupiah saat ini dengan krisis moneter 1998 karena struktur ekonomi dan tingkat inflasi sudah berbeda.

        “Kita juga harus mengedukasi masyarakat bahwa kita tidak bisa membandingkan kurs nilai tukar sekarang dengan 1998,” katanya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Azka Elfriza
        Editor: Annisa Nurfitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: