Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Terpuruk, Nyaris Dekati Level Rp18.000 Jelang Libur Iduladha

Rupiah Terpuruk, Nyaris Dekati Level Rp18.000 Jelang Libur Iduladha Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dan terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (26/5/2026). 

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sempat menyentuh level Rp17.803 per dolar AS pada pukul 09.34 WIB sebelum bergerak di kisaran Rp17.794 per dolar AS hingga pukul 10.55 WIB.

Pelemahan tersebut memperpanjang tren depresiasi rupiah yang berlangsung sepanjang Mei 2026. Sebelumnya, mata uang Garuda telah menembus level terlemah di kisaran Rp17.600 per dolar AS dan kini semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.

Mayoritas mata uang Asia juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS pada perdagangan sebelumnya. Won Korea Selatan mencatat pelemahan terdalam sebesar 0,33%, diikuti yen Jepang yang turun 0,03% dan dolar Hong Kong yang melemah 0,01%.

Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyoroti bahwa pelemahan ini terjadi di momentum yang krusial, tepat sehari sebelum libur nasional. Kondisi ini memicu kekhawatiran karena Bank Indonesia (BI) tidak dapat mengintervensi pasar domestik saat pasar libur, sementara tekanan dari pasar internasional terus berjalan.

"Kita melihat bahwa pelemahan mata uang rupiah di hari ini cukup signifikan. Pelemahannya begitu mengkhawatirkan, apalagi besok di libur nasional yang kemungkinan besar tekanan eksternal ini akan cukup tinggi. Bank Indonesia tidak bisa melakukan intervensi di pasar domestik, obligasi, dan seluruh negara sehingga hanya di pasar internasional ini akan membuat rupiah kembali mengalami pelemahan," kata Ibrahim kepada wartawan.

Berdasarkan analisis situasi global, faktor eksternal dari konflik Timur Tengah, khususnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, menjadi penyebab utama rontoknya nilai tukar rupiah. Rencana perdamaian yang sebelumnya diupayakan oleh pihak ketiga justru buyar akibat aksi militer mendadak dari AS.

Baca Juga: Rupiah Sentuh Rp17.600, Misbakhun: Ini Bukan Krisis 1998!

Baca Juga: Indonesia Bisa Ambil Untung dari Pelemahan Rupiah, Kebijakan Pangan jadi Kunci Pemerintahan Prabowo-Gibran

Lebih lanjut, Ibrahim enilai ketidakpastian sikap dari Presiden AS Donald Trump terkait isu komoditas sensitif seperti uranium membuat situasi politik di Teheran ikut bergejolak dan terpecah.

 "Lagi-lagi Amerika mengatakan bahwa uranium yang ada di Iran harus diambil alih oleh Amerika dan tidak mungkin ya Iran akan memberikan uranium tersebut. Di Iran sendiri terpecah menjadi dua adalah paksi garis keras dan yang menginginkan adalah perdamaian," ungkap dia.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Cita Auliana
Editor: Dwi Aditya Putra

Tag Terkait: