Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Reputasi Peneliti Indonesia Akan Hancur Gegara WNI Palsukan Riset di Forum Ilmuwan Dunia, Kata DPR

        Reputasi Peneliti Indonesia Akan Hancur Gegara WNI Palsukan Riset di Forum Ilmuwan Dunia, Kata DPR Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani menyoroti serius dugaan pemalsuan riset yang menyeret sejumlah warga negara Indonesia dalam konferensi ilmiah internasional di Denmark.

        Menurutnya, kasus tersebut berpotensi menghancurkan reputasi Indonesia di dunia pendidikan dan riset global apabila tudingan itu terbukti benar.

        Baca Juga: Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud Tak Bisa Dipaksa Mundur, DPRD: Dia Punya Amanah dari Hampir Sejuta Warga

        “Kami tentu sangat prihatin atas dugaan skandal riset palsu yang melibatkan WNI dalam forum ilmiah internasional,” kata Lalu, Rabu (27/5/2026).

        Polemik ini bukan sekadar dugaan manipulasi data penelitian, tetapi ancaman rusaknya kepercayaan internasional terhadap akademisi Indonesia yang selama ini dibangun bertahun-tahun.

        Lalu menilai jika benar terjadi pemalsuan identitas akademik, fabrikasi data, hingga penggunaan AI untuk menghasilkan riset fiktif, maka dampaknya akan sangat luas bagi citra Indonesia.

        “Hal itu bukan hanya melanggar etika akademik, tetapi juga dapat mencoreng nama baik Indonesia,” ujarnya.

        Kasus tersebut sebelumnya ramai dibahas di media sosial setelah akun @mandharabrasika menuding sejumlah orang Indonesia melakukan manipulasi riset dalam konferensi Internasional Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) di Kopenhagen, Denmark.

        Unggahan itu menyebut peserta diduga menggunakan AI untuk membuat data, gambar, hingga tulisan penelitian palsu. Bahkan, salah satu peserta disebut mengganti identitas saat presentasi, termasuk nama, jilbab, dan nametag.

        Lokasi penelitian yang dicantumkan juga disebut berada di berbagai negara seperti Peru, Etiopia, Bangladesh, Nepal, Kenya, hingga India utara tanpa kolaborator lokal maupun persetujuan etik.

        Lalu mengingatkan agar tindakan segelintir oknum tidak sampai merusak nama para peneliti Indonesia lain yang bekerja secara profesional dan jujur.

        “Jangan sampai tindakan segelintir oknum merusak kepercayaan internasional terhadap para akademisi dan peneliti Indonesia,” tegasnya.

        Baca Juga: Dipuji-Puji, Sherly Tjoanda Minta Rp2,9 Triliun Saat Bertemu AHY

        Ia juga menilai kasus ini harus menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan tinggi nasional untuk memperkuat budaya integritas akademik di era kecerdasan buatan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: