Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Analis Bongkar Penyebab Rupiah Anjlok ke Rp17.885 per Dolar AS

        Analis Bongkar Penyebab Rupiah Anjlok ke Rp17.885 per Dolar AS Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Jumat (29/5/2026). Rupiah dibuka di level Rp17.862,5 per dolar AS atau melemah 17 poin sekitar 0,10% dibandingkan perdagangan sebelumnya.

        Berdasarkan pergerakan pasar hingga pukul 11.13 WIB, pelemahan rupiah terus berlanjut dan menyentuh level Rp17.885 per dolar AS atau turun 39 poin.

        Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah kali ini cukup signifikan dan terjadi di tengah pelemahan indeks dolar AS global.

        "Pelemahan mata uang rupiah ini berbanding terbalik karena indeks dolar juga melemah sebenarnya dalam perdagangan di hari ini. Tetapi rupiah ini mengalami pelemahan yang menurut saya cukup signifikan," kata Ibrahim kepada wartawan, Jakarta, Jumat (29/5/2026).

        Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah bukan disebabkan oleh faktor teknis kebijakan moneter Bank Indonesia (BI), melainkan lebih dipengaruhi persoalan struktural dalam perekonomian nasional.

        Ia menilai pergantian Menteri Keuangan dari Sri Mulyani ke Purbaya Yudhi Sadewa memunculkan sejumlah kebijakan dan pernyataan yang dinilai berlawanan dengan sentimen pasar. Salah satunya terkait rencana transfer dana Bank Indonesia ke bank-bank Himbara.

        Selain itu, Ibrahim juga menyinggung keputusan MSCI yang menurunkan penilaian terhadap pasar modal Indonesia akibat persoalan free float saham emiten yang dinilai masih rendah.

        "Ini membuat investor asing ini susah untuk masuk ke saham-saham, obligasi-obligasi di Indonesia, yang terjadi selama ini ini adalah pemerintah harus mencari hutang baru. Cuma cara satunya adalah hutang baru," tambahnya.

        Dari sisi eksternal, Ibrahim menilai tensi geopolitik di Timur Tengah turut memperburuk tekanan terhadap rupiah. Blokade Iran di Selat Hormuz dinilai mengganggu sekitar 20% distribusi minyak dan gas dunia sehingga memicu kenaikan harga minyak mentah global.

        Kenaikan harga minyak dinilai berdampak besar terhadap Indonesia sebagai negara pengimpor minyak. Ibrahim menyebut kebutuhan dolar pemerintah meningkat untuk menopang subsidi energi dan menutup tekanan defisit APBN.

        "Di APBN 2025 rupiah dipatok di Rp16.500, sekarang rupiah itu di Rp17.900. Kemudian minyak dipatok di 70 dolar per barel, sekarang sudah di atas 92 dolar per barel," tuturnya.

        Selain itu, musim pembagian dividen perusahaan terbuka disebut turut meningkatkan permintaan dolar AS di pasar domestik. Ibrahim juga menyoroti besarnya kebutuhan pembayaran utang jatuh tempo yang dinilai semakin menekan rupiah.

        Baca Juga: Rupiah Nyaris Sentuh Rp17.900 per Dolar AS Pada Perdagangan Pagi Ini

        Baca Juga: Penerapan WFH ASN Diklaim Berhasil Menghemat Anggaran Negara hingga Triliunan Rupiah

        Ia menambahkan, minat masyarakat memindahkan dana ke valuta asing juga meningkat karena ekspektasi pelemahan rupiah yang berlanjut. Menurutnya, fenomena tersebut semakin memperbesar tekanan terhadap mata uang domestik.

        Di sisi lain, rencana kebijakan ekspor satu pintu untuk sektor tambang yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto juga dinilai menimbulkan kekhawatiran di pasar. Ibrahim menyebut kebijakan tersebut memicu ketidakpastian bagi pelaku usaha tambang yang telah memiliki kontrak jangka panjang dengan mitra luar negeri.

        "Nah ini yang membuat carut-marut perekonomian di Indonesia, sehingga rupiah terus mengalami pelemahan yang cukup signifikan," tutup Ibrahim.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Cita Auliana
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: